Rabu, 29 Jul 2020 17:56 WIB

Sumber Daya Alam di RI Cukup untuk Bikin Baterai Kendaraan Listrik

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Bluebird mengoperasikan armada taksi listrik pertama. Bluebird menggunakan merk BYD e6 A/T sedangkan Silverbird, Tesla Model X 75D A/T. Mobil listrik. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Kendaraan listrik menjadi teknologi yang tengah diperhatikan pemerintah. Indonesia dinilai bisa menjadi pemain besar teknologi kendaraan listrik karena bahan baku baterainya terkandung di Tanah Air.

Menurut Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, teknologi baterai untuk kendaraan listrik merupakan kunci utama bagi Indonesia untuk menjadi pemain utama di sektor kendaraan elektrik.

"Oleh karena itu, investasi dalam pengembangan baterai kendaraan listrik menjadi sebuah hal yang perlu terus kami dorong," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7/2020).

Menurutnya, Indonesia memiliki ketersediaan sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan baterai kendaraan listrik. Ini bakal menjadi kemandirian Indonesia dalam pengembangan baterai.

"Untuk memproduksi baterai kendaraan listrik, dibutuhkan bahan baku yang jumlahnya mencukupi di Indonesia, seperti nikel dan kobalt. Selain itu, industri kendaraan listrik juga mulai berkembang dan memiliki fondasi pasar di dalam negeri hingga potensi ekspor," ujarnya.

Kata Putu, Kemenperin telah menerima berbagai komitmen investasi di sektor pengolahan bahan baku baterai kendaraan listrik. Di Morowali, Sulawesi Tengah misalnya, PT QMB New Energy Minerals telah berinvestasi sebesar USD700 juta. Selain itu, PT Halmahera Persada Lygend juga telah berkomitmen menggelontorkan dananya sebesar Rp14,8 triliun di Halmahera, Maluku Utara.

Selanjutnya, untuk produksi baterai cell lithium ion, terdapat investasi sebesar Rp207,5 miliar yang dikucurkan oleh PT International Chemical Industry. Perusahaan ini akan memproduksi sebanyak 25 juta buah baterai cell lithium ion yang setara dengan 256 MWh per tahun. "PT International Chemical Industry akan mulai masuk tahap pra-produksi komersial pada akhir tahun 2020 dan mulai masuk tahap produksi komersial di tahun 2021," sebut Putu.

Pemerintah membentuk tim untuk mendorong keterlibatan industri dalam negeri agar bisa mengembangkan baterai kendaraan listrik. Tim itu terdiri dari BUMN di sektor tambang dan energi seperti Mind.id, PT Antam, PT PLN, dan PT Pertamina. "Mind.Id dan PT Antam akan fokus ke raw material dan refinery. Sementara itu, PT PLN dan PT Pertamina nanti fokus pada sektor hilirnya," jelas Putu.

Kemenperin juga membahas soal pengolahan limbah baterai kendaraan listrik. Menjalin koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pemerintah membahas pengolahan limbah baterai itu. Salah satu isu utama yang dibahas adalah daur ulang baterai lithium ion bekas menjadi bahan baku dalam memproduksi baterai baru.

"Dari berbagai kajian, baterai lithium ion dapat didaur ulang dan hasilnya 100% tidak ada yang terbuang sehingga tidak menghasilkan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Hal ini tentu sangat penting untuk menyokong produksi bahan baku baterai yang ada di berbagai wilayah seperti di Morowali, dan untuk itu kami terus berkoordinasi dengan KLHK terkait upaya daur ulang baterai lithium ion yang aman bagi lingkungan," kata Putu.

"Pada prinsipnya kemajuan teknologi di sektor otomotif melalui pengembangan baterai kendaraan listrik tetap harus memperhatikan kelestarian lingkungan sehingga dampaknya dapat dirasakan baik itu untuk memajukan sektor ekonomi dan industri sekaligus tetap menjaga kelestarian alam," pungkasnya.



Simak Video "Mobil Listrik Anak Bangsa, Surabaya"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com