Kota Berpolusi Udara Tinggi Tingkatkan Risiko Kematian Virus Corona?

Ridwan Arifin - detikOto
Senin, 20 Apr 2020 20:11 WIB
Foto udara suasana gedung bertingkat di kawasan Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, Jumat (3/4/2020). Memasuki minggu ketiga imbauan kerja dari rumah atau work from home (WFH), kualitas udara di Jakarta terus membaik seiring dengan minimnya aktivitas di Ibu Kota. Berdasarkan data dari situs pemantauan udara AirVisual.com pada Kamis 3 April pada pukul 12.00 WIB, Jakarta tercatat sebagai kota dengan indeks kualitas udara di angka 55 atau masuk dalam kategori sedang. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/pras.
Kualitas udara Jakarta mulai membaik saat social distancing Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA
Jakarta -

Kualitas udara yang buruk disebut memengaruhi risiko tingkat kematian karena Virus Corona. Polutan yang bisa menimbulkan ancaman kesehatan pernapasan terbesar itu ialah Particular Matter (PM) 2.5.

"Pneumonia ini paling banyak disumbang oleh partikal PM 2,5 itu tadi. Karena PM 2,5 begitu terhirup, bulu hidung tidak mampu menyaring lagi," kata Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin saat dihubungi detikcom, Senin (20/4/2020).


Mengutip AirVisual, PM 2.5 adalah partikel tak kasat yang mengambang di udara dengan ukuran diameter 2,5 mikrometer atau kurang. Partikel ini bersumber dari asap dan jelaga dari kebakaran atau limbah kebakaran, emisi dan pembakaran kendaraan bermotor, proses industri yang melibatkan reaksi kimia.

Ambang batas normal yang ditetapkan World Health Organization (WHO) untuk kandungan polusi atau partikel debu halus PM2.5 adalah 25 μg/m3.

"Jangan heran kalau PSBB jadi berantakan. Efeknya pencemaran udara juga meninggi lagi, tapi yang lebih fatal, pencemaran udara ini fatalnya ke penderita COVID ini, sangat sensitif terhadap kualitas udara." jelasnya.

Senada dengan pernyataan tersebut, dalam sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari Harvard TH Chan School of Public Health mengatakan tingkat kematian akibat virus Corona COVID-19 akan lebih tinggi di negara-negara yang berpolusi udara cukup parah.

"Temuan kami, peningkatan hanya 1 gram per meter kubik dalam partikel halus di udara dikaitkan dengan peningkatan 15 persen dalam tingkat kematian COVID-19," kata peneliti utama Francesca Dominici, co-director Harvard Data Science Initiative seperti dikutip CNN.

"Hasilnya menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap polusi udara dapat meningkatkan kerentanan untuk mengalami dampak COVID-19 yang paling parah," lanjutnya.

Dominici pun mengatakan studi ini bisa menjadi referensi bagi para pemerintah di berbagai negara untuk lebih tegas dalam menegakkan social distancing dan memperbaiki fasilitas rumah sakit yang ada untuk mengurangi risiko kematian akibat virus Corona.

Meski begitu, polutan tinggi bukan satu-satunya penyebab penyebaran virus corona, beberapa hal seperti tingkat mobilitas dan kepadatan penduduk jadi bagian yang tak bisa terpisahkan. Puput melihat kenaikan polusi udara di Jakarta lantaran meningkatnya mobilitas masyarakat.

"Katakanlah Sudirman-Thamrin sepi (saat PSBB), tapi lihat Lenteng Agung, Radio Dalam, kemudian Jalan Bekasi Timur. Belum lagi Bodetabek larinya ke DKI semua, kalaupun turun paling 20 persen." jelas Puput.

"Dalam konteks ini kendaraan paling menyumbang tinggi tingkat polusi. Faktanya masih berjibun kendaraan di jalan. Kemudian di JORR, truk-truk masih lalu lalang. Belum lagi yang Bodetabek, larinya ke DKI semua. Kalau yang begini kan angin dari Timur dan Tenggara lari ke Jakarta. Begitu angin ini bertiup kualitas Jakarta langsung menurun drastis. Kalau Tenggara dari JORR, Jagorawi, Jalan Tol Cibitung, Cipali dan Bodetabek, larinya ke situ," urai dia.



Simak Video "5 Temuan yang Diklaim Bisa Mengatasi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)