PSBB Hampir 2 Minggu, Kenapa Kualitas Udara Jakarta Masih Buruk?

Ridwan Arifin - detikOto
Senin, 20 Apr 2020 16:58 WIB
Emisi gas buang kendaraan kerap jadi biang kerok buruknya kualitas udara Jakarta. Jika memang demikian, pemerintah diharapkan turun tangan menanganinya.
Kualitas udara Jakarta membaik saat social distancing Foto: Antara Foto
Jakarta -

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah diterapkan di DKI Jakarta sejak 10 April 2020. Memasuki hari ke-11 udara Jakarta pagi tadi justru berada di kategori tidak sehat.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin mengatakan kualitas udara di Jakarta sempat membaik pada masa social distancing ketimbang PSBB.

"Benar, kemarin (kualitas udara Jakarta membaik), 10 hari kedua benar. Tapi sekarang kan sudah tidak biru lagi kan," ujar pria yang akrab disapa Puput saat dihubung detikcom, Senin (20/4/2020).

Social distancing saat itu kegiatan yang biasa dilakukan di luar, seperti bekerja, belajar dan beribadah bisa dilaksanakan di dalam rumah. Particulate Matter (PM) 2.5 yang menjadi sumber polusi itu pun mampu ditekan dibanding rata-rata tahunan.

"10 hari pertama social distancing dari tanggal 16 maret kira-kira sampai tanggal 25 Maret itu masih buruk sekalipun ada tren menurun tipis. Karena rata-rata tahunan sekitar 44,65 µg/m3 (kategori tidak sehat-Red)."

"Nah pada saat itu turun 40 µg/m3, turun tipis. Tapi sekalipun turun tetap dalam kategori tidak sehat menggunakan rata-rata tahunan."

"Antara tanggal 26 Maret sampai dengan 4 April, itu membaik, jadi rata-rata 18,10 µg/m3. Secara umum dapat dikatakan kategori baik karena mendekati angka 15 µg/m3," paparnya.

Namun, tingkat polusi udara di Jakarta rata-rata meningkat saat penerapan PSBB ketimbang social distancing. Ambang batas normal yang ditetapkan World Health Organization (WHO) untuk kandungan polusi atau partikel debu halus PM2.5 adalah 25 μg/m3.

"Tapi begitu masuk ketiga, itu balik lagi memang tidak separah di hari pertama. Naik ke posisi 28 µg/m3, sampai sekarang itu posisi 28 µg/m3 sampai 30 µg/m3," sambung Puput.

Puput menjelaskan kenaikan polusi saat PSBB disebabkan kembali beraktivitasnya masyarakat menggunakan kendaraan.

"Pada waktu itu (social distancing-Red) orang benar-benar serius tidak keluar rumah dan tidak kemana-mana. Tetapi kemudian ketika diterapkan PSBB ini kan terjadi silang pendapat antara Istana, Pemda DKI Jakarta, dengan pak Luhut."

"Masyarakat pasti menilai ini serius tidak ini. Akhirnya masyarakat wajar saja jika keluar rumah. Toh kalau mereka tidak keluar rumah, masyarakat juga tidak punya penghasilan. Akhirnya mereka berbondong-bondong keluar rumah lagi.

"Jadi kalau yang akhir-akhir ini bersih dari kendaraan hanya di Sudirman-Thamrin, Gatot Subroto, tetapi selebihnya parah juga kan," jelasnya.



Simak Video "Bahayanya Polutan PM2,5 Bagi Kesehatan Tubuh"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)