Sabtu, 21 Mar 2020 14:10 WIB

Minggu Pertama WFH Pendapatan Ojol Turun 50%

Rizki Pratama - detikOto
Kolong rel kereta Juanda kini menjadi lokasi shelter ojek online. Keberadaan shelter itu guna mencegah terjadinya penumpukan ojek online di pinggir jalan. Ojek online kehilangan pendapatan 50 persen semasa WFH Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Himbauan untuk mengurangi aktifitas di luar atau Work From Home (WFH) sudah berjalan selama satu minggu di DKI Jakarta guna meminimalisasi penyebaran virus corona. Hal ini pun memberikan pukulan berat bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya sebagai jasa transportasi umum roda dua seperti ojek online.

Dalam jangka satu minggu ini pendapatan para mitra ojek online atau ojol menurun drastis lebih dari 50 persen. Biasanya satu hari pendapatan kotor ojol di angka Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu, kini hanya berkisar Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu saja.

"Jadi karena adanya pandemi COVID-19 ini dan kebijakan pemerintah untuk bekerja di rumah, sekolah di rumah, maupun ibadah di rumah pendapatan ojek online anjlok, turun signifikan lebih dari 50 persen rata-rata. Sanetiap hari normal pendapat groos Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Sekarang hanya Rp 50-100 ribu udah sulit," ungkap Ketua Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda), Igun Wicaksono melalui sambungan telepon kepada detikcom, Sabtu (21/3/2020).

Ilustrasi Ojek OnlineIlustrasi Ojek Online Foto: instagram

Igun memperkirakan kondisi ini akan semakin memburuk memasuki minggu kedua WFH. Melihat penurunan terus terjadi bukan tak mungkin di minggu kedua pendapat ojek online bisa merosot 80% persen dari hari biasanya sebelum himbauan WFH disampaikan.

"Mungkin akan bertambah anjlok semakin memasuki pekan keuda Work From Home, karena makin menyepi kota khususnya Jakarta. Kegiatan masyarakat makin sedikit. Bisa (turun) 80 persen kalau terus," jelas Igun.

Penurunan ini jelas terasa karena sumber pendapatan utama ojek online adalah layanan antar jemput penumpang. Sementara itu layanan antar jemput makanan dan barang tak mampu menutupi kekurangan dari permintaan untuk mobilias masyarakat.

"Kita andalin dari order layanan makanan dan barang khususnya pada malam hari. Nggak nutup karena kan multi layanan paling besar penumpang. Jadi kita hanya mendapatkan penghasilan sangat sedikit banget. Penumpang paling besar, kedua makanan, ketiga pengiriman barang," tutup Igun.



Simak Video "Pemerintah Temukan 1.000 Lebih Klaster Corona di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(rip/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com