Kamis, 21 Mar 2019 07:40 WIB

Berita Populer

Oplet 'Si Doel' Seharga Fortuner, Jokowi Punya SIM A Sampai C

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Di JIExpo, Kemayoran, Jakarta saat ini sedang digelar pameran Indonesia Classic N Unique Bus beriringan dengan acara Busworld South East Asia 2019. Di ajang ini, banyak kendaraan-kendaraan unik mulai dari alat transportasi jadul sampai buss modern seperti bus listrik.

Indonesia Classic N Unique Bus ini juga menghadirkan mobil jadul dari berbagai lintasan zaman. Salah satu yang menarik perhatian adalah mobil Morris alias oplet yang digunakan dalam serial Si Doel Anak Sekolahan.

Oplet Si Doel ini bisa saja detikers beli. Harganya setara Toyota Fortuner baru.

Berita soal oplet Si Doel seharga Fortuner ini menjadi salah satu berita populer otomotif Rabu (20/3/2019) kemarin. Selain itu, ada berita mengenai calon armada bus listrik Transjakarta, Jokowi yang punya SIM A sampai C. Berikut ulasan berita populer Rabu (20/3/2019).

1. Oplet Si Doel Seharga Fortuner



Salah satu yang menarik perhatian mata di pameran Indonesia Classic N Unique Bus adalah mobil merek Morris Minor 100 produksi 1957, yang merupakan kendaraan angkutan umum di tahun 1950-an. Mobil yang dipanggil 'Oplet' ini cukup eksis lama bahkan hingga akhir 1970-an.

Mungkin detikers familiar dengan Morris Minor 100 ini di serial Si Doel Anak Sekolahan. Tapi unit yang dipamerkan di Indonesia Classic N Unique Bus, merupakan milik kolektor asal Jakarta Timur bernama Salim.



"Ini mobil warisan. Dulu pas ada peremajaan dari oplet ke Kijang sama Colt, oplet ini saya jadikan mobil plat hitam," kata Salim, di lokasi pameran, Rabu (20/3/2019).

detikers ingin membeli oplet Si Doel ini? Bisa kok. Bicara harga, Salim memasang banderol untuk opletnya sekitar Rp 500 jutaan atau setara SUV seperti Toyota Fortuner. Ada alasan, mengapa Salim memasang harga tinggi untuk mobil klasiknya.

"Karena komponennya semua masih ori. Dan di Indonesia mobil ini bisa dihitung jari. Jadi saya pasang harga di atas Rp 500 juta. Dulu sih udah ada yang pernah Rp 450 juta tapi saya tolak," katanya lagi.

Meski tergolong mobil tua, Salim mengatakan jika Morris Minor 100 miliknya masih kuat dipakai untuk harian, bahkan untuk perjalanan jauh. "Kemarin saja saya habis touring dari Magelang," pungkas Salim.


2. Jokowi Punya SIM A sampai C



Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang terlihat memiliki hobi menggeber sepeda motor. Dalam beberapa kesempatan Jokowi sering terlihat menunggangi sepeda motor. Bahkan Jokowi tak segan mengendarai sepeda motor ketika melakukan kunjungan kerja di daerah-daerah.

Jokowi justru jarang terlihat mengendarai mobil dalam melakukan aktivitasnya. Tapi jangan salah, Jokowi bisa menyetir kok. Soal Surat Izin Mengemudi pun Jokowi punya lengkap mulai dari SIM A, SIM B, hingga SIM C.

"Sebelumnya nuwun sewu, Bapak bisa nyetir mobil, pak?" tanya Cak Lontong dalam sebuah video yang diunggah Jokowi ke akun instagramnya, Rabu (20/3/2019).

"Bisa. SIM A punya, SIM B punya, SIM C punya," ujar Jokowi menjawab pertanyaan Cak Lontong

"Wah lengkap yang nggak punya SIM apa pak?" tanya Cak Lontong lagi.

"Yang nggak punya sim salabim," jawab Jokowi berseloroh.


3. Calon Armada Bus Listrik Transjakarta



Bus Transjakarta jadi salah satu peserta yang ikut 'memanaskan' lantai etalase pameran Busworld South East Asia 2019, di JIE (Jakarta International Expo), Kemayoran, Jakarta, pada tanggal 20-22 Maret 2019.

Menariknya, Transjakarta membawa dua buah konsep bus listrik yang sudah dibubuhi livery ala bus Transjakarta. Bus pertama berwarna biru disuplai oleh MAB (perusahaan bus listrik Indonesia), sedangkan bus kedua yang berwarna hijau 'lime' bermerek BYD.

"Tujuan memamerkan dua konsep bus listrik ini kita ingin bangun awareness. Kita ingin tunjukkan bahwa bus listrik itu ada. Dan itu masa depan," ujar Direktur Utama Transjakarta, Agung Wicaksono, di lokasi pameran, Rabu (20/1/2019).

Secara tampilan interior, kedua bus listrik ini punya desain bagian dalam sama seperti bus kota pada umumnya. Konfigurasi kursinya 2-2, dengan pegangan tangan yang banyak di tiang atas. Kedua bus ini juga sudah dilengkapi kursi khusus untuk penyandang disabilitas.

Sementara untuk tampilan luarnya, kedua bus ini mengusung warna biru dan hijau dengan gradasi biru muda, yang seolah ingin menyampaikan bahwa ini adalah transportasi umum ramah lingkungan.

"Studi untuk layanan ini sudah dilakukan oleh Pemprov dan didukung oleh UN (PBB) dengan UN Enviroment Program. Dari situ kita diminta untuk mengimplementasikan," terang Agung.

"Kami memang menyediakan dua penyuplai bus yang berbeda. Kami juga terbuka untuk (pakai) semuanya. Yang penting memenuhi syarat dari Transjakarta. Paling penting dia harus cocok dengan operasional Transjakarta. Nanti akan diuji di situ," pungkas Agung.


4. Jangan Diam Saja kalau Tak Sanggup Teruskan Kredit Kendaraan



Salah satu cara untuk memiliki kendaraan adalah dengan melakukan kredit. Fasilitas ini bisa didapatkan melalui perusahaan pembiayaan. Tentu konsumen sadar dengan segala macam konsekuensi yang perlu dihadapi, mulai dari bunga hingga kendaraan ditarik bila mengalami kredit macet.

"Kalau konsumen ingin membeli kendaraan roda empat atau roda dua tapi tidak memiliki uang untuk membayar lunas maka ia memerlukan perusahaan pembiayaan, dari sanalah ia bisa membeli kendaraan dan akhirnya harus membayar dengan cara mencicil, itu sudah disepakati, bunga rendah dan segala macamnya," buka Ketua Komunitas Layanan Konsumen Indonesia, David Tobing kepada detikcom, Selasa (19/03/2019).

Saat ini baik perusahaan pembiayaan maupun konsumen sudah terlindungi dengan Undang-Undang No. 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Apabila konsumen melakukan kesulitan dalam pembayaran cicilan, sebaiknya segera menghubungi perusahaan pembiayaan.

"Ketika berbicara tentang pembayaran cicilan yang macet, entah karena ada masalah keuangan, sakit, sehingga tidak bekerja sebaiknya konsumen itu datang ke perusahaan pembiayaan untuk mengatur kembali restrukturisasi tentang pembayaran cicilannya," ungkap David.

"Jangan malah menjual, atau mengalihkan motor atau mobil itu kepada pihak lain, karena itu bisa dikenakan pidana," tambah David.

Pun demikian dengan perusahaan pembiayaan, adapun proses mekanisme yang dilakukan sebelum melakukan eksekusi perusahaan wajib memberikan surat peringatan. Apabila tidak diindahkan, perusahaan pembiayaan melalui tenaga jasa penagihan berhak melakukan eksekusi kepada debitur namun dengan syarat memiliki sertifikat fidusia.

"Tapi kan kalau misalnya dia tidak datang atau mengabarkan tentunya pelaku perusahaan pembiayaan akan datang untuk menagih, pertama diberikan surat peringatan, satu sampai dua kali dan diberi waktu batas untuk membayar, kalau sampai tidak dilakukan maka perusahaan pembiayaan berhak untuk menarik kendaraan," ungkap David.


5. DP Mobil Bekas untuk yang Berpenghasilan Rp 4 Juta



Membeli mobil bekas dengan income atau penghasilan Rp 4 juta per bulan ternyata bisa saja dilakukan. Tapi ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi.

Pertama, harga mobil harus di bawah angka Rp 100 juta. Dan jenis mobil bekas yang bisa dijumpai di rentang harga tersebut adalah mobil berjenis city car atau LCGC.

Contohnya ada Kia Picanto SE 1.1 MT B keluaran 2011, yang dibanderol Rp 85 juta. Selain itu ada Daihatsu Ayla X 1.0 AT produksi 2014 yang punya harga mencapai Rp 95 juta.

Lantas berapa uang muka minimal yang harus disiapkan? "Dengan pemasukan Rp 4 jutaan per bulan, DP minimum yang ditawarkan adalah Rp 10 juta," ujar Sales Supervisor Mobil88 Bekasi, Sandi Kurnia.

Sebagai simulasi, misal harga Kia Picanto 2011 Rp 79 juta. Artinya, calon konsumen harus bayar uang muka setidaknya Rp 10 juta. Dengan asumsi tenor 4 tahun (48 kali), maka cicilan per bulannya ketemu angka Rp 2,296 juta.

Sementara untuk Daihatsu Ayla 2014 yang punya harga Rp 95 juta, calon konsumen bisa membuat anggaran DP sebesar Rp 10,4 juta. Sementara untuk angsurannya yakni Rp 1,8 juta x 47 kali.

Tapi sebagai catatan, hitung-hitungan tersebut berlaku untuk calon konsumen yang belum berkeluarga, sehingga belum memiliki cukup banyak pengeluaran per bulannya.

"Untuk yang sudah berkeluarga. Maka pastikan sudah memiliki rumah sendiri dan sudah lunas. Selain itu, harus ada pemasukan lain, misalnya dari istri yang bekerja atau usaha sampingan lainnya," pungkas Sandi. (rgr/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed