Rabu, 20 Feb 2019 15:38 WIB

Orang Indonesia Masih Gengsi Naik Angkutan Umum

Ridwan Arifin - detikOto
Ilustrasi bus Foto: Agung Pambudhy Ilustrasi bus Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Bagi sebagian masyarakat, memiliki kendaraan tidak hanya sekedar untuk menunjang mobilitas semata tetapi berfungsi juga untuk menunjukkan status individu di dalam masyarakat.

Ternyata faktor inilah menurut Asisten Direktur Operasi PT Mayasari Bakti Ahmad Zulkifli menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk mengajak masyarakat agar dapat beralih ke transportasi umum.



"Sebenarnya langkah-langkah pemerintah sudah cukup bagus. Cuma memang menurut survei pemasaran, karakter orang Indonesia masuk ke-10 besar yang memiliki gengsi tinggi," kata Akhmad kepada detikOto di kantornya, Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (19/02/2019).

"Orang yang naik mobil walaupun kelas standar, mereka tidak mau naik angkutan umum harus berdesakan. Pemerintah sekarang juga berupaya bahkan menjangkau busway masuk ke pinggir kota," kata Akhmad.

Ia kemudian menilai meski program pemerintah yang mencanangkan konektivitas antar-moda dan pembangunan infrastruktur belakangan ini terbilang sangat bagus.



Namun terlihat sulit untuk mengubah paradigma masyarakat yang sudah mengakar kuat mengenai transportasi umum, terlebih bagi mereka yang tidak biasa berdesakan.

"Tetapi hal itu bisa disiasati sebetulnya, ketika layanan angkutan umum sudah memiliki SPM. Tetapi bicara langkah-langkah pemerintah sudah cukup bagus, tinggal bagaimana dilakukan terobosan ke ke depannya, soal kenyamanan," ujar Akhmad.

"Sekarang bisa dibilang belum efektif dan kurang nyaman. Bisa dilihat terkadang penumpang harus umpel-umpelan," kata Akhmad.


Orang Indonesia Masih Gengsi Naik Angkutan Umum
(riar/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com