Rabu, 20 Feb 2019 11:21 WIB

Bus Kota Bakal 'Mati', Transjakarta Jadi Fokus Mayasari Bakti

Ridwan Arifin - detikOto
Bus Transjakarta yang Disediakan Mayasari Bakti. Foto: Ridwan Arifin
Jakarta - Perusahaan Otobus (PO) Mayasari Bakti sudah lama dikenal sebagai perusahaan jasa transportasi di Indonesia. Sejak tahun 1964, didirikan oleh H. Engkud Mahpud hingga saat ini masih bertahan melayani mobilitas masyarakat Jabodetabek.

Namun sedari tahun 2016, sebagian armada milik Mayasari Bakti mulai tergabung dengan PT Transportasi Jakarta. Seperti yang dikatakan Asisten Direktur Operasi PT Mayasari Bakti Ahmad Zulkifli saat berbincang dengan detikOto di kantornya, Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (19/02/2019).

"Mayasari Bakti saat ini memiliki dua divisi, yakni divisi Busway Transjakarta dan divisi reguler. Divisi reguler itu melayani trayek-trayek yang selama ini beroperasi artinya tidak berada di bawah manajemen Transjakarta," buka Akhmad.



"Divisi Busway ini kita bekerja sama dengan PT Transportasi Jakarta. Untuk divisi busway ini punya dua pool, berada di Cijantung dan Klender, memiliki jumlah 279 unit khusus untuk Busway. Kita menggunakan dua merek dari Eropa, yaitu Scania dan Mercedes-Benz," kata Akhmad.

Ia kemudian menuturkan kondisi pasar bus kota saat ini seperti mati suri. Mulai banyak masyarakat yang pintar untuk memilih moda transportasi yang lebih baik.

Berangkat dari hal tersebut, Mayasari Bakti berencana mengubah semua armada bus kotanya untuk berada di bawah naungan PT Transjakarta yang dinilai memiliki manajemen lebih baik.



"Lambat laun tapi pasti semua akan terintegrasi dengan Busway tinggal menunggu regulasi dengan pemerintah," kata Akhmad.

"Artinya ada penataan yang dilakukan pemerintah dalam hal ini untuk melakukan revitalisasi angkutan, sehingga ada penyeragaman dari sisi manajemen, kemudian ada Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang ditetapkan oleh Gubernur, nah ini kan perlu satu atap, mau tidak mau Mayasari harus ikut," kata Akhmad.

"Kita sedang melakukan proses yang reguler akan mengarah ke sana. Dua atau tiga tahun lagi semua reguler sudah bergabung," ujar Akhmad.

Kata Akhmad, pihaknya menginginkan agar masyarakat yang menggunakan angkutan umum mendapat kendaraan yang layak dan baik, terutama harga tiket terjangkau.



"Mau tidak mau kita harus ganti kulit. Kita bakalan mati, bisa dibayangkan dengan tarif Rp 3.500 bisa keliling dan transit, artinya dari marketing saja sudah jauh," ujar Akhmad.

"Dengan tarif Rp 3.500 sudah dapat subsidi, mobil bagus, kinclong ada SPM yang harus diikuti oleh operator. Artinya memastikan bahwa produk yang digunakan pengguna jasa adalah sebuah produk yang sudah ada standarisasinya, tidak asal-asalan," tambah Akhmad.

Dalam liputan khas ini, detikOto bersama dengan PasangMata melakukan penelusuran mengenai 'Transportasi Busuk'. Tapi, apakah semua transportasi busuk? Simak terus laporannya di detikOto.

Atau, Otolovers melihat ada 'transportasi busuk' di sekitarnya? Silakan kirim laporannya ke pasangmata.detik.com. (riar/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com