Rabu, 09 Jan 2019 13:22 WIB

Bus Trans Semarang Kini Bertenaga Gas dari Jepang

Angling Adhitya Purbaya - detikOto
Foto: Angling Adhitya Purbaya Foto: Angling Adhitya Purbaya
Semarang - Pemerintah Kota Semarang dan Kota Toyama Jepang merealisasikan kerjasama konversi bahan bakar solar ke gas untuk Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang. Untuk saat ini sudah ada 72 bus yang menggunakan bahan bakar gas.

Peluncuran program converter gas BRT Trans Semarang dilakukan di Hotel Patra Semarang dihadiri oleh Wali Kota Toyama, Masashi Mori, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, dan Dirjen Perhubungan Darat Kementrian Perhubungan Budi Setiyadi.



Wali Kota Toyama, Masashi Mori mengatakan kotanya ditunjuk SDGs untuk memberi contoh upaya yang berhasil untuk perekonomian berkelanjutan. Selain itu mencari solusi masalah di kota lainnya di tingkat perekonomian daerah lainnya salah satunya di Indonesia.

Bus Trans Semarang BBG Bus Trans Semarang BBG Foto: Angling Adhitya Purbaya


"Usaha konversi bahan bakar ini proyek pertama, Ini proyek usulan yang pertama sehingga bisa diprolosikan sebagai model untuk daerah dan kota lain di dunia," kata Mori, Rabu (9/1/2019).

"Sejak September 2017 Kota Toyama melakukan survei yang mempromosikan masyarakat rendah karbon dengan city to city colaboration. Dengan teknologi koverter dari Toyama gas karbon bisa ditekan hingga 40 persen," imbuhnya.



Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan skema pembiayaan Rp 10 miliar dalam kerjasama tersebut yaitu 50 persen bantuan dari Toyama dan 50 persen APBD Kota Semarang.

"Ini adalah langkah konkrit setelah MoU dengan Toyama," kata Hendrar.

Bus BBG Semarang Bus BBG Semarang Foto: Angling Adhitya Purbaya


Teknologi konverter dengan sistem retrofit yang digunakan yaitu 70 persen gas dan 30 persen solar. Kedua bahan bakar itu tetap bisa digunakan namun solar digunakan cadangan. Uji coba sudah dilakukan pada 23 Juli 2017 lalu dengan jarak tempuh 16,5 kilometer.

Hasil uji coba, jika hanya solar maka membutuhkan 5,5 liter dengan biaya Rp 28.325 sedangkan bahan bakar campuran solar dan gas membutuhkan 1,48 liter solar dan 4,02 Lsp gas CNG dengan biaya Rp 20.084, patokan harga gas di Jakarta Rp 3.100.

"Saat uji coba di tanjakan Gombel, menggunakan solar harus persneling 2 (transmisi ke-2). Pakai Gas ternyata bisa persneling 3 (transmisi ke-3), powernya lebih besar," kata Kadishub Semarang, M Khadik.

Terkait pengisian bahan bakar, saat ini yang dioperasikan yaitu di kantor Dishub Kota Semarang di Tambak Aji. Meski demikian sudah disiapkan stasiun pengisian bahan bakar di Mangkang, Penggaron, dan Kaligawe.

Terkait dengan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) untuk pengisisan pada BRT Trans Semarang, di Semarang saat ini sudah berdiri beberapa SPBG, antara lain SPBG Mangkang, SPBG Penggaron, SPBG Kaligawe.

Namun SPBG yang ada tersebut belum difungsikan, terkait dengan pengisian bahan bakar Gas, akan dilakukan di tambak Aji. BRT Trans Semarang bekerjasama dengan PT.Pertagas Niaga dalam hal pengisian bahan Bakar Gas dengan mendatangkan 2 MRU (Mobile Refueling Unit).

Keberadaan MRU akan memudahkan pengisian bahan bakar dengan CNG (Compressed Natural Gas)," jelas Kepala Badan Layanan Umum (BLU) UPTD Trans Semarang Ade Bhakti Ariawan.


Tonton juga video 'Bu Risma Kembali Luncurkan 10 Unit Bus Suroboyo':

[Gambas:Video 20detik]

Bus Trans Semarang Kini Bertenaga Gas dari Jepang
(alg/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed