Selasa, 08 Jan 2019 16:45 WIB

Ini yang Jadi Biang Kerok Kemacetan

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Kemacetan di Jakarta. Foto: Haris Fadhil-detikcom Kemacetan di Jakarta. Foto: Haris Fadhil-detikcom
Jakarta - Kemacetan menjadi hal yang biasa mewarnai kota-kota besar. Bukan hanya di Jakarta, beberapa kota besar di dunia pun mengalami hal yang sama.

Saat jam-jam sibuk, jalanan dipadati banyak kendaraan. Kemacetan ini tentu menimbulkan kerugian yang besar, bahan bakar terbuang sia-sia sampai waktu habis untuk bermacet-macetan.

Los Angeles merupakan kota termacet di dunia. Di Los Angeles 84 persen warganya lebih memilih untuk berkendara sendiri. Bahkan karena hal itu Los Angeles dijuluki 'kota berkendara'.

Sementara Jakarta duduk di urutan keempat kota termacet di dunia. Diperkirakan kalau Otolovers mengemudi di jam sibuk, 63 jam terbuang sia-sia karena kemacetan.



Sebenarnya apa sih penyebab kemacetan itu? Mengutip laman Go Metro, ada beberapa faktor penyebab kemacetan. Pertama, kemungkinan penyebabnya adalah karena lampu lalu lintas yang tidak berfungsi. Tak berfungsinya lampu lalu lintas membuat persimpangan menjadi semrawut. Pengendara bisa jadi tak mau saling mengalah sehingga persimpangan bisa saja terkunci dan menimbulkan kemacetan panjang.

Kecelakaan yang menghalangi jalan juga bisa menimbulkan kemacetan. Kecelakaan yang menimbulkan penyempitan jalan kerap kali menjadi biang kerok kemacetan. Pengendara jadi berebut untuk menghindari lajur yang tertutup akibat kecelakaan.

Faktor kemacetan lain bisa jadi karena kepadatan di jalan akibat volume kendaraan yang terlalu banyak sementara ruas jalannya tidak memadai, atau mungkin karena ada pengemudi ugal-ugalan dan tidak bertanggung jawab sehingga mengganggu pengendara lain.

Go Metro menulis, angkutan umum yang berhenti sembarangan turut menjadi biang kerok kemacetan. Angkutan umum kerap kali berhenti tidak pada tempatnya untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Kadang-kadang malah angkutan umum berhenti di tengah jalan sehingga mengganggu pengendara lain.

Dikutip dari laman Geo Tab, sebuah studi yang dilakukan oleh Dr. Jean Andrey dan Daniel Unrau menemukan, cuaca turut menjadi pengaruh kemacetan. Studi itu melaporkan, kecelakaan lalu lintas meningkat 50 persen selama salju dan hujan. Dari cuaca hujan atau berkabut, hingga badai ekstrem membuat pengendara melambat. Memang seharusnya dalam cuaca ekstrem itu kecepatan dikurangi demi keselamatan.



Contoh faktor lingkungan lain yang membuat jalanan macet bisa jadi karena tanah longsor. Tanah longsor tak cuma menghentikan laju lalu lintas, tetapi juga menjadi penyebab kecelakaan jika pengendara tidak berhati-hati. Secara keseluruhan, cuaca buruk menjadi penyebab utama dalam 15 persen kasus kemacetan lalu lintas, menurut DOT.

Kategori lain yang bisa menjadi penyebab kemacetan adalah infrastruktur. Pembangunan infrastruktur--meski akan lebih baik ke depannya--yang membuat jalan semakin sempit kerap menimbulkan kemacetan. Geo Tab menulis, untuk meningkatkan infrastruktur, pembangunan infrastruktur itu menyebabkan 10 persen dari kemacetan lalu lintas. Untuk itu, pengendara diminta agar menghindari jalan-jalan yang terdapat pembangunan infrastruktur dan mencari jalan alternatif.

Tak cuma itu, mulai dari jalan rusak sehingga memperlambat laju kendaraan sampai penyempitan jalan atau dikenal dengan efek bottlenecks turut menjadi penyumbang kemacetan. Faktanya menurut DOT, bottlenecks menyumbang 40 persen dari penyebab kemacetan lalu lintas. (rgr/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com