Kamis, 23 Agu 2018 12:59 WIB

Bertahun-tahun 'Sapu' Jalanan Dapat 4 Ton Ranjau Paku

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Ranjau Paku dalam ember. Foto: Rohim Ranjau Paku dalam ember. Foto: Rohim
Jakarta - Pengendara di Jakarta, khususnya pengendara sepeda motor, masih terancam dengan adanya ranjau paku yang disebar oknum tak bertanggung jawab. Ranjau paku itu kalau menusuk ban kendaraan akan membuat ban bocor sampai kehabisan tekanan angin.

Kalau terkena ranjau paku, tentu hal itu bakal membuat jengkel pengendara. Motor harus didorong, tak jarang jarak dari lokasi ban bocor sampai tukang tambal ban itu jauh.

Rohim Saber, salah satu penggiat Relawan Penyapu Ranjau Paku Saber Community, melakukan tindakan positif dengan 'menyapu' jalanan Jakarta dari ranjau paku. Bermodalkan alat dari susunan magnet, Rohim berinisiatif menyapu ranjau paku di jalan-jalan utama di Jakarta.



"Saya pertama aktif sapu ranjau itu tahun 2010. Sampai dengan 2016 itu yang sudah ditimbang totalnya 1,5 ton," kata Rohim kepada detikOto.

Sampai saat ini Rohim masih aktif menyapu ranjau paku di jalanan Jakarta. Ranjau paku yang ditebar itu tak kenal hari libur.

"Setiap hari selalu ada ranjau jari-jari payung. Hari ini lumayan, ada seperempat kilogram setelah penyapuan," sebut Rohim setelah menyapu ranjau paku di hari libur Hari Raya Idul Adha kemarin.

Saat ini, masih ada ranjau paku yang dikumpulkan Rohim dan disimpan di rumahnya. Totalnya yang masih disimpan ada 8 ember yang berat per embernya bisa sampai 40 kg.



"Itu yang tersisa 300 kg itu dari tahun 2017 awal sampai 2018. Kalau dari awal pertama aktif 2010 sampai dengan 2016 itu yang sudah ditimbang ditotal itu 1,5 ton. Kalau digabungin dari 1,5 ton + 300 kg ya 1,8 atau 1 ton 800 kg. Kalau digabung seluruh anggota (komunitas Saber) itu ditotal yang sudah ditimbang itu hampir 4 ton," sebut Rohim.

Rohim beberapa waktu lalu juga sempat bercerita kepada detikOto bahwa ranjau paku yang dikumpulkan tersebut akan disortirnya. Paku yang bagus, akan dijualnya ke tukang bangunan ataupun toko material. Sementara yang bentuknya tidak keruan, dibawanya ke tukang loak untuk dijual sebagai besi tua.

"Saya jual ke tukang di kampung Rp 20.000 sekilo. Di dekat rumah juga ada Pak Haji (pemilik toko material) yang mau tampung Rp 10.000 sekilo," tutur Rohim.

"Yang jelek pakunya baru saja loakin. Tapi dapatnya sedikit, palingan cuma dapat Rp 3.000-4.000 sekilo," sambungnya. (rgr/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed