Senin, 05 Mar 2018 16:33 WIB

Ini Solusi Agar Tak Ada Lagi Sopir Truk yang Ugal-ugalan

Khairul Imam Ghozali - detikOto
Antrean truk saat kemacetan. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom Antrean truk saat kemacetan. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
Jakarta - Meski tidak semua, kebanyakan sopir truk di Indonesia punya kelakuan minus, yakni ugal-ugalan saat berkendara. Dalam hal ini, pemerintah dianggap harus bergerak mengurangi masalah tersebut.

Seperti yang disampaikan Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia, Kyatmaja Lookman, mudahnya seseorang mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) di Indonesia dianggapnya perlu dibenahi.



"Karena kalau di kita kan SIM-nya langsung jadi, nggak tahu bagaimana prosesnya SIM-nya langsung jadi, padahal kan kita perlu berproses," ujarnya kepada wartawan, di Jakarta Convention Center, Senayan.

Karena menurut Kyat, jika orang begitu saja mendapatkan SIM dengan mudah, maka nantinya akan ada perilaku yang salah meski kemampuan berkendaranya sudah tidak diragukan lagi.



"Maksudnya berproses, oke lah dilihat kompetensinya, tapi kan knowladge sama attitude-nya juga harus dinilai dalam pembuatan SIM, tapi ini kan nggak pernah," ucapnya.

Selain itu, menurutnya harus ada konsekuensi untuk pelanggaran yang dilakukan. Artinya harus ada peraturan yang memberatkan para pelanggar yang sudah memiliki SIM. Dan itu hanya pemerintah yang bisa melakukannya.



"Contoh di beberapa negara kan ada demerit points. Jadi gini, dia dapat SIM dapat nilai 12 misalnya, ketika dia melakukan pelanggaran minus 1, kalau terus menerus kan nggak punya nilai, nol, nah itu SIM-nya bisa di-suspend," papar Kyat.

"Selama nggak ada konsekuensi untuk melanggar berarti dia akan terus melanggar," tambahnya. (khi/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed