Berita Otomotif Terbaru Dalam Dan Luar Negeri
Minggu 14 Januari 2018, 08:03 WIB

Kisah Metromini: Dari Zaman Soekarno Hingga Berseteru dengan Ahok

Muhammad Idris - detikOto
Kisah Metromini: Dari Zaman Soekarno Hingga Berseteru dengan Ahok Foto: Dok Polsek Gambir
Jakarta - Bagi warga Jakarta, Keberadaan Metromini adalah favorit untuk wara-wiri di Jakarta. Bahkan, sejak kemunculannya di tahun 1960-an, sulit menggantikan angkutan umum bercorak khas orange dengan garis biru putih di tengahnya.

Kesan negatif sangat lekat dengan Metromini, juga 'saudaranya' Kopaja yang bekalangan ini sudah mulai berbenah. Stigma tersebut seperti supir ugal-ugalan, sembarangan menurunkan penumpang, ngetem, hingga sarang copet.

Metromini pertamakali diperkenalkan tahun 1962 di era Gubernur Soemarmo. Saat itu, Presiden Soekarno menginginkankan bus yang bisa menunjang pesta olahraga Games of the New Emerging Forces (GANEFO) dan Asian Games.

Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, kemudian menginisiasi pembentukan PT Metromini yang berkantor di Rawamangun, Jakarta Timur, untuk menaungi ratusan armada dan pemiliknya yang rata-rata individu.

Awalnya, bodi Metromini sebenarnya tak seperti saat sekarang yang bentuknya pakem segi empat panjang. Bus kecil tersebut awalnya mirip roti tawar dengan moncong di depannya.

PT Metromini sendiri belakangan bermasalah karena keributan di kepengurusannya. Konflik pun dimulai dengan saling gugat yang dimulai oleh sebagian pengurus tahun 1993 yang menggugat pengurus tahun 1995 ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Gugatan ini dikabulkan dan diperkuat oleh putusan Pengadilan Tinggi Jakarta. Mahkamah Agung pun mengukuhkan pengurus tahun 1993.

Sejak itu, dualisme di tubuh PT Metromini tak terhindarkan. MA sempat memerintahkan agar pengurus melakukan RUPS atau RUPS Luar Biasa karena sejak 2008 tak pernah diadakan RUPS.

Kemudian saat Joko Widodo menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, program peremajaan transportasi umum dimasifkan. Angkutan yang reot dan tak laik jalan, seperti Metromini, Kopaja, mikrolet, secara bertahap dikandangkan.

Jika mengacu pada Peraturan Daerah No. 5 tahun 2014 tentang transportasi. Seharusnya Metromini harus sudah hilang dari jalanan Jakarta sejak 2016. Namun, pengandangan dilakukan bertahap, mengingat banyak warga Jakarta yang bergantung pada transportasi masal tersebut.

"Jadi bukan hanya Metromini saja. Bahwa ini memang sudah ketentuannya dalam 3 tahun secara bertahap (dihilangkan). Baik yang bus besar, sedang, kecil yang habis (masa berlaku). Buat Metromini, (izin) paling akhir 2018," tegas Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansyah, kepada detikOto.

Penarikan Metromini dilakukan Dishub DKI Jakarta secara bertahap. Caranya dengan tidak lagi mengeluarkan izin operasi yang baru, sehingga armada metromini akan hilang satu per satu dengan sendirinya.

"Jadi ini kan bertahap. Kalau kita lakukan penindakan di 2016 nanti masyarakat kasihan kan. Kemudian kalau disuruh peremajaan, kan juga enggak bisa ujug-ujug beli (bus baru), besoknya sudah datang. Jadi bertahap 2 tahun," ungkap Andri.

Perseteruan dengan Ahok

Program peremajaan berlanjut di Era Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Mantan Bupati Belitung Timur ini saat itu bahkan menyatakan tak ada lagi bus-bus reyot Metromini dan Kopaja di Jakarta pada tahun 2017, karena sudah digantikan dengan bus-bus baru.

"Tahun depan (2017) seluruh bus Metromini, Kopami, Kopaja (yang reyot) sudah tidak akan ada lagi, bila kita berhasil mengendalikan semua dengan baik," kata Ahok.

Rencananya, Kopaja dan Metromini akan diintegrasikan dengan Trans Jakarta. Selain itu, pengadaan bus-bus baru juga bakal menggantikan bus-bus reyot itu, dengan tarif Rp 3.500 saja, bahkan ada pula yang gratis. Selain bus, ke depan bakal ada moda transportasi umum yang lain lagi.

Di era Ahok, ratusan Metromini dikandangkan sehingga populasinya mulai surut di jalanan, yang sempat didemo supir Metromini. Pemprov DKI Jakarta pun memesan ratusan bus-bus baru untuk dipersiapkan menggantikan Metromini. Bus-bus tersebut sebagian besar dari pabrikan Eropa.

Bus-bus baru yang dioperasikan oleh PT Trans Jakarta tersebut dengan nama Minitrans dan Metrotrans.

Minitras sebagai bus pengganti Metromini. Minitrans, selaku transportasi umum hasil revitalisasi Metromini akan berfungsi menjadi feeder. Sedangkan Metrotrans yang ukurannya lebih besar, akan menjadi bus kota seperti TransJakarta namun dapat berhenti di jalur non koridor.

Selain dioperasikan oleh PT Trans Jakarta, sebagian Minitrans juga dimiliki oleh sejumlah pemilik Metromini yang tergabung dalam Trans Swadaya.

Dari tampilan luar, dengan memasang fitur yang telah disematkan di tubuh TransJakarta, kedua bus yang akan menggantikan Metromini Cs ini lebih modern. Jeroannya jauh lebih wah daripada transportasi kita pada umumnya.

Melihat fungsinya yang menjadi perantara antara jalur non koridor dan halte TransJakarta, Minitrans memiliki tubuh mungil dibanding Metrotrans. Di dalamnya, ada 17 kursi yang dapat digunakan oleh penumpang. Sehingga Minitrans memiliki kapasitas hingga 30 penumpang dalam perutnya.

Sedangkan Metrotrans, ia memiliki tubuh yang lebih panjang dan besar sehingga memiliki sekitar 42 kursi. Kapasitas totalnya pun mampu mengangkut penumpang hingga tiga kali lipat dari Minitrans.

Lebih jauh, Minitrans juga dilengkapi dengan AC, kursi yang lebih nyaman, dan pembayaran elektronik (tap in), serta tombol stop untuk tanda pengingat ke drivernya.

Sedangkan Metrotrans, sudah memiliki fitur yang sama dengan bus kota seperti luar Negri. Selain AC, pembayaran elektronik, dan tombol stop, bus bisa dibuat rendah dengan tombol menurunkan suspensinya sehingga memudahkan penumpang untuk naik. (idr/dry)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed