Kamis, 19 Okt 2017 08:00 WIB

Sudah Tahu Spare Parts Palsu, Orang Masih Nekat Mau Beli

Ruly Kurniawan - detikOto
Pabrik pelumas Shell di Indonesia (Foto: Rachman Haryanto) Pabrik pelumas Shell di Indonesia (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta -
Orang suka barang yang palsu karena harganya lebih murah. Padahal produsen rugi sampai triliunan rupiah. Dari data Masyarakat Indonesia Anti-Pemalsuan atau MIAP, kerugian karena barang palsu itu mencapai Rp 6,51 triliun pada 2014 lalu.

Data kerugian itu berdasarkan dari 7 industri di Jakarta dan Surabaya.Ketua MIAP Justisiari P Kusumah mengatakan tingkat pemalsuan di industri otomotif tergolong cukup tinggi.

"Memang meskipun sudah ada himbauan, tingkat pembelian barang palsu termasuk di bagian otomotif masih cukup tinggi. Malahan, sekarang sudah menjadi salah satu opsi dari mereka," katanya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (18/10/2017).
Dalam kesempatan yang sama, ia mencatat 42% orang Indonesia berminat ingin beli yang palsu yakni di bidang elektronik. Untuk software sebesar 35%, dan yang terakhir adalah produk farmasi (tak dirincikan).
"Pada bidang otomotif, (meskipun belum terdapat angka pastinya) mereka lebih banyak membeli barang palsu di bagian fast movement seperti kampas rem," ujar Justisiari.
Padahal, ia menambahkan, sebenarnya para pengguna tersebut mengetahuinya. Bahkan juga dampak pada kendaraannya.
"Iya padahal mereka sudah tahu kalau tidak asli, tapi tetap saja dibeli. Mungkin karena kemasan dan bentukannya berbeda dan unik ya dari aslinya. Bahkan tak jarang juga lebih bagus," tambah Justisiari.
Oleh karena itu, ia mengimbau agar sifat tersebut dapat berubah karena akan merugikan berbagai pihak khususnya dirinya sendiri.
"Kerugiannya akan merembet kemana-mana seperti Negara, industri, hingga dirinya sendiri. Apalagi kalau yang dipalsukan itu pelumas. Karena, penggunaan pelumas palsu pada mesin kendaraan membuat kinerja mesin menjadi lebih berat dan menyebabkan kerusakan yang. Sehingga, biaya perawatan yang dikeluarkan akan menjadi lebih tinggi," tutupnya

Jika soal pemalsuan di pelumas, berapakah kerugian yang dialami oleh PT Shell Indonesia selaku produsen pelumas dan oil?
"Kalau sampai saat ini sejujurnya tentang kerugian dari pelumas Shell, kita belum tahu. Tapi dari data yang saya pernah lihat, kerugian di luar sana (produsen dalam bidang yang sama-Red) untuk Indonesia ialah kurang lebih sekitar 5%," papar Direktur Pelumas PT Shell Indonesia Dian Andyasuri dalam kesempatan yang sama.
Berangkat dari sana, pihaknya kini meluncurkan satu teknologi yang memungkinkan untuk menekan pelumas bajakan yakni Jam Jar.
"Bagi kami paling utama adalah keselamatan konsumen entah naik mobil atau motor seperti mesin, kelengkapan, bensin, dan sebagainya. Begitu juga dengan pelumas," ujar Dian.
"Memang pakai barang palsu atau replika pada barang lain tak mengakibatkan pengurangan safety tapi kalau dengan pelumas, akan berdampak pada mesin kendaraan. Oleh karena itu, kita Shell ingin mengantisipasinya," katanya lagi.


(ddn/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com