Sebagai perusahan minyak terbesar di dunia, Shell menyoroti isu global warming. Oleh karena itu dalam kesempatan Shell Eco Marathon 2015 di Filipina, Shell mengundang pakar-pakar di Asia untuk mencari solusi terbaik.
Diskusi bertajuk 'Resilience In An Urbanising Word' membahas efek perubahan cuaca yang terjadi di Asean belakangan , Mulia Asif Ahmad, Saya Kitase konsultan lingkungan international, Glynn Ellis Strategic Energy Advisor, Shell Coporate Strategy and Planing, Felino Palafox Arsitekture dan Peranca Perkotaan.
βUrbanisasi akan menjadi salah satu kekuatan paling signifikan yang imbasnya akan terasa di masa depan, yang menghadirkan peluang sekaligus risiko,β ucap Glynn Ellis di dalam paparan acara Powering Progress Together Forum kedua di Manila, Filipina, Kamis (26/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini sangat mengancam sumber-sumber daya utama seperti energi, air, dan pangan. Urbanisasi memperkuat posisi Asia sebagai kekuatan Ekonomi tetapi diperlukan perencanaan cermat agar pertumbuhan ini berkesinambungan sehingga tercipta kota-kota yang lebih kuat tak hanya efisien dari segi sumber daya tetapi juga mampu mengedepankan kualitas," jelas Glynn.
Glynn menjelaskan pada tahun 2010 konsumsi minyak dunia setiap tahun 8 juta/ tahun. Angka itu akan terus bertambah setiap tahunnya.
"Pada tahun 2040 akan itu diprediksi meningkat jadi 16 juta / tahun, atau sekitar 80%. Kedepan ini menjadi tantangan bersama bagaimana mengurangi 23% pemakaian konsumsi bahan fosil sehingga dapat menghemat 20 triliun," lanjut Glynn.
Glynn dalam pemaparaannya menjelaskan kaitan demografi, perubahan cuaca dan aspek sosial. Salah satu solusinya dengan pembangunan sarana dan prasarana transportasi masal.
"Seperti memperbanyak koridor transit bus di lokasi padat perkotaan. Kenapa Manila, karena ini (Manila-red) salah satu kota besar dan terpadat dimana terdapat 7 juta orang yang mana masyarakat dan pemerintahnya mau berubah untuk lebih baik. Hal itu terlihat dari pembangunan tata kota sekarang ini," tuturnya.
Holger Dalkman direktur program EMBARQ institute World Resource mengatakan dalam penataan kota urban. Masing-masing kota memiliki penanganan yang berbeda.
"Tentu pada akhirnya setiap orang menginginkan apa yang direncanakan dapat tercapai. Seperti halnya Korea Selatan jika melihat beberapa tahun lalu kota ini sungguh amat padat akan tetapi dalam beberapa tahun terakhir semua berubah seperti Seoul," ujar Holger Dalkman.
Holger mengatakan untuk dapat mewujudkan perkotaan berkesinambungan. Tedapat tiga aspek penting yakni institusi atau pemerintah, finasial dan teknologi.
"Pemerintahan dalam hal ini harus mendukung untuk menciptakan tata kota yang berkelanjutan. Ketika hal itu terjadi maka dapat menghemat 30 tiliun dolar hingga 2030," tutupnya.
(edo/lth)












































Komentar Terbanyak
Jawaban Pindad soal Prabowo Minta Desain Mobil Khusus Presiden Sapa Rakyat
Prabowo Minta Pindad Bikin Mobil Presiden Khusus buat Sapa Rakyat
Bayar Pajak STNK Tanpa KTP Pemilik Lama, Wajib Isi Formulir Balik Nama