Komisaris Utama Indomobil Soebronto Laras mengungkapkan, bisnis otomotif tahun ini diperkirakan belum bisa mencapai kinerja terbaik seperti tahun-tahun sebelumnya. Berbagai tantangan seperti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tingginya tingkat suku bunga, dan persaingan di industri otomotif sendiri masih akan menghadang.
"Bisnis otomotif lagi menurun. Problem terbesar rupiah, itu kan jadi masalah. Suku bunga tidak turun jadi tight policy. Selain itu, problem otomotif adalah infrastruktur dan logistik," papar Soebronto saat ditemui di Wisma Indomobil, Jakarta, Jumat (27/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belanja modal tahun ini lebih rendah dari tahun lalu, itu tidak termasuk investasi kendaraan sewa. Capex tidak termasuk bisnis rental, US$ 60 juta dolar majority dari internal cash flow," katanya.
Belanja modal tersebut, lanjut Soebronto, bakal digunakan perseroan untuk mengembangkan 20 showroom baru di seluruh Indonesia. Pada kuartal I-2014, baru 6 showroom yang dikembangkan.
Untuk mengantisipasi penurunan bisnis di industri otomotif, perseroan bakal sedikit menggeser portofolio pendapatan dengan menambah porsi pendapatan dari bisnis pembiayaan (finance) menjadi 7-10% dari sebelumnya 4%.
"Kita mesti hati-hati dengan yang namanya kebutuhan modal kerja, jangan overstock. Kalau overstock yang terjadi perang harga. Ada potensi pengembangan kontribusi di finance tadinya 4% akan ke 7-10% dari revenue," terang Soebronto.
Meski saat ini melambat, tetapi Soebronto optimistis industri otomotif akan tetap punya prospek yang cerah. "Kondisi pasar otomotif pengembangan ke depan akan terus naik. Saya fully confident," tegasnya.
(drk/lth)












































Komentar Terbanyak
Impor Pickup India Disebut Lebih Murah, Segini Harganya
Pick Up 4x4 India Jadi Kendaraan Operasional: Biaya Perawatan Mahal-Suku Cadang Terbatas
Ini Dia Wujud Pick Up India yang Sudah Berstiker Koperasi Merah Putih