Bensin Mahal, Octane Booster Jadi Incaran

Bensin Mahal, Octane Booster Jadi Incaran

- detikOto
Rabu, 03 Jul 2013 18:15 WIB
Bensin Mahal, Octane Booster Jadi Incaran
ilustrasi (istimewa)
Jakarta - Banyak siasat yang dilakukan pengguna kendaraan bermotor untuk meningkatkan kandungan oktan bahan bakar minyak. Cara termudah adalah dengan mencampurkan octane booster. Ternyata, hal itu berbahaya.

Disparitas harga antara bensin RON 92 ke atas dan RON 88 saaat ini masih cukup tinggi. Saat ini, PT Pertamina (Persero) membanderol Pertamax (RON 92) pada harga Rp 9.400 per liter, sedangkan Premium (RON 88) mencapai Rp 6.500 per liter.

Dengan melihat disparitas harga tersebut, pengguna kendaraan bermotor dihadapkan pada sejumlah pilihan. Pertama, cara biasa dengan mencampur Premium dengan Pertamax. Kedua, ada pilihan lain yang mulai populer yaitu dengan menggunakan octane booster.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hanya dengan mengeluarkan uang Rp 50.000-Rp 70.000 per botol, konsumen sudah bisa mencampur suplemen bahan bakar ini ke dalam tangki. Rata-rata, berdasarkan penelusuran, satu botol octane booster bisa dipakai untuk mencampur bensin sebanyak 60 liter ke dalam tangki.

Lantas, sebenarnya octane booster dan apa jenisnya? Rata-rata, octane booster yang dikonsumsi masyarakat Indonesia masih diimpor dan sebagian besar berjenis octane enhancer non-oxygenate. Produk ini disinyalir berpotensi membahayakan lingkungan.

Kendati octane enhancer non-oxygenate terbukti mampu memacu peningkatan kandungan oktan bahan bakar kendaraan bermotor, campuran tersebut juga diyakini mengancam kesehatan manusia yang menghirup sisa pembakarannya.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mendefinisikan octane enhancer non-oxygenate adalah campuran beberapa unsur logam (organometallic) yang bisa meningkatkan nilai oktan. Adapun, beberapa unsur logam tersebut di antaranya terdiri dari besi (Fe), timbal (Pb), dan mangan (Mn). Namun, unsur-unsur ini dikenal sangat berbahaya bagi lingkungan.

Bayangkan, jika sisa pembakaran dari tiga bahan dasar tersebut masuk ke dalam tubuh manusia. Lalu apa dampaknya terhadap mesin kendaraan bermotor? Gaikindo dengan tegas menolak penggunaan suplemen ash-forming aditif atau non-oxygenate ini pada mesin.

Anggota Tim Transportasi, Lingkungan, dan Infrastrukstur Gaikindo, Indra Chandra Setiawan, mengatakan kendaraan roda empat dewasa ini telah dilengkapi peralatan pengontrol emisi yang sangat rumit.

Salah satunya yaitu 3-way catalyst dan oksigen sensor untuk gas buang yang mampu melakukan control closed loop yang sangat teliti. Dengan demikian, pencampuran octane enchancer non-oxygenated akan merusak sensor kendaraan sehingga tidak optimal.

"Sistem kendaraan ini harus bisa dijaga dalam keadaan optimal agar dapat mempertahankan emisi gas buang yang rendah sepanjang usia kendaraan," katanya dalam seminar bertajuk Penggunaan Octane Enhancer Non Oxygenate Dalam Bahan Bakar Bensin.

Menurutnya, penggunaan ash-forming aditif dapat memengaruhi secara signifikan kondisi operasi catalyst dan komponen lainnya termasuk oksigen sensor. "Akhirnya, penggunaan octane booster non-oxygenated bisa meningkatkan emisi kendaraan," ungkapnya.

Sementara itu, Heru Sutanto dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), juga mengatakan hal senada. Menurutnya, bila senyawa tersebut digunakan pada kendaraan bermotor, hal itu akan berpengaruh buruk pada kinerjanya.


(syu/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads