Pangeran Saudi Tak Ingin Mobil Ramah Lingkungan

Pangeran Saudi Tak Ingin Mobil Ramah Lingkungan

- detikOto
Senin, 06 Jun 2011 10:07 WIB
Pangeran Saudi Tak Ingin Mobil Ramah Lingkungan
Jakarta - Meningkatnya harga minyak dunia tentu saja membebani setiap negara. Tapi tidak bagi negara penghasil minyak seperti Arab. Saat ini Arab sedang menikmati keuntungan akibat kenaikan minyak. Negara di Timur Tengah ini pun berharap negara lain tidak berusaha membuat mobil ramah lingkungan.

Menipisnya cadangan minyak membuat harga minyak dunia melonjak drastis. Hal tersebut membuat para produsen mobil terutama produsen mobil Eropa dan Amerika berusaha untuk mereduksi konsumsi bahan bakar mobil buatannya.

Berbagai teknologi pun diciptakan, mulai dari mobil dengan teknologi dual mesin (hybrid) hingga mobil listrik diharapkan dapat membuat ketergantungan terhadap minyak berkurang. Tapi hal itu tidak disenangi oleh Arab.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pangeran Arab Al-Waleed bin Talal dalam wawancara bersama CNN mengatakan kalau mereka berharap negara barat tidak berusaha untuk mencari energi alternatif.

"Kami tidak ingin Barat mencari (energi) alternatif. Karena jelas, semakin tinggi harga minyak semakin banyak insentif yang mereka keluarkan dan alasan untuk mencari alternatif," ungkapnya seperti diilansir autonews Senin (6/5/2011).

Meski begitu, Al-Waleed tidak menginginkan harga minyak terlalu mahal. Menurut Al-Waleed harga minyak dunia seharusnya ada di rentang US$ 70-80. Tapi meningkat ke arah US$ 100.

Kekhawatiran Al-Waleed ini bisa jadi karena pemerintahan Amerika Serikat saat dipimpin Barack Obama sekarang sedang menyiapkan aturan untuk memaksa para pabrikan membuat mesin mobil yang lebih ramah lingkungan.

Obama bahkan sudah melarang pemerintah federal Amerika untuk membeli mobil berkapasitas mesin besar yang boros bensin seraya menyiapkan strategi yang mengharuskan mobil yang dijual di tahun 2016 harus memiliki konsumsi bahan bakar 1:15 atau 15 km per liter.

Angka tersebut akan terus ditingkatkan sampai menjadi 20 km per liter sampai 26 km per liter di tahun 2025 mendatang. Bila kebijakan ini benar-benar diimplementasi, Amerika tentu bisa secara signifikan mengurangi ketergantungan minyaknya. Padahal kini Amerika merupakan salah satu negara yang paling banyak mengkonsumsi minyak.

(syu/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads