"Thailand memiliki banyak keterkaitan, produksi yang saling melengkapi, ada otomotif, ada elektronika," kata wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar ketika ditemui di kantornya, Jl Ridwan Rais, Selasa (3/5/2011).
Namun kata Mahendra, barang-barang yang diproduksi di Thailand akan dijual ke Indonesia begitu juga barang buatan Indonesia akan diekspor ke Thailand. "Jadi saling mengisi-lah," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka produksi makin banyak kita pun produksi makin banyak ya pertukarannya pun makin banyak," ujarnya.
Masih terkait dengan produk otomotif, negara lain yang cukup dominan adalah Jepang. Pasca gempa dan tsunami yang melanda negara tersebut berimbas pada suplai suku cadang otomotif ke Indonesia.
"Kalaupun ada penurunan ekspor Indonesia ke Jepang, apakah karena adanya tsunami atau karena adanya siklus musiman, itu akan kita llihat nanti," ujarnya.
Mahendra menjelaskan, beberapa waktu yang lalu Indonesia sempat mengekspor mobil ke Jepang. Mobil tersebut adalah mobil merek Jepang yang diproduksi di Indonesia.
"Terakhir kita mengekspor mobil ke Jepang. Walaupun mobil itu merek Jepang, tapi dibuat di Indonesia," ujarnya.
Berdasarkan data BPS, selama Januari-Maret 2011 nilai total impor Indonesia mencapai US$ 38,79 miliar atau meningkat 29,46% jika dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya US$ 29,96 miliar.
Negara pemasok barang impor non-migas terbesar selama Januari-Maret 2011 masih ditempati oleh China dengan nilai US$ 5,30 miliar dengan pangsa 17,43%, disusul Jepang dengan nilai US$ 4,42 miliar atau memegang pangsa pasar 14,53% dan Thailand US$ 2,58 miliar dengan pangsa pasar 8,50%. Sementara total impor non-migas dari ASEAN mencapai 23,94%, sementara dari Uni Eropa sebesar 8,76%.
(dnl/ddn)










































