Sebab lahirnya sebuah mobil nasional yang 'benar-benar nasional' memang sulit dilakukan oleh perusahaan swasta bila tanpa dibantu oleh pemerintah. Pengamat otomotif Suhari Sargo menjelaskan, pemerintah disini harus mengambil peran untuk mensinergikan semua pihak.
Karena membangun sebuah perusahaan otomotif menurut Suhari tidak semudah mendirikan perusahaan lalu membangun pabrik. Ada industri pendukung lain yang harus disinergikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi seluruh komponen mobil itu tidak mungkin dibuat di satu pabrik. Nah disinilah peran pemerintah untuk melakukan standarisasi dan sinkronisasi industri pendukung," tegasnya.
Kalau pemerintah mau bersusah payah mengembangkan hal itu niscaya di masa depan kita akan punya sebuah mobil nasional yang kualitasnya tidak kalah dengan merek asing.
Namun kalau pemerintah tidak mau memikirkan jangka panjang, tidak punya visi ke depan ya tidak akan jadi-jadi. "Perusahaan yang belakangan mengeluarkan mobil sendiri kan perusahaan kecil semua, seberapa kuat mereka bisa bergumul dengan pasar? Seberapa besar volume mobil yang bisa mereka produksi?," ujarnya.
"Lebih dari 10 tahun lalu saya sudah ngomong. Texmaco kan punya mobil sendiri. Memang teknologinya masih teknologi tahun 70an, tapi paling tidak kalau pemerintah mau, mobil Texmaco itu bisa kita jadikan dasar, untuk awal kita bisa bikin mobil sederhana. Pasarnya di daerah agar penyebaran mobil bisa merata. Tapi jawabannya biasa, ngambang," keluhnya.
Dalam dua tahun belakangan memang lahir berbagai mobil hasil produksi anak bangsa. Mulai dari Gea, Komodo, Arini, Wakaba hingga Tawon. Mobil-mobil ini dikembangkan oleh industri otomotif menengah.
"Mereka harus dibantu. Kalau tidak ya bisa terinjak oleh para raksasa," tandasnya.
(syu/ddn)










































