Alasan RI Masih Kalah dari Thailand

Alasan RI Masih Kalah dari Thailand

- detikOto
Selasa, 25 Jan 2011 15:55 WIB
Alasan RI Masih Kalah dari Thailand
Jakarta - Dengan beragam potensi yang ada, Indonesia seharusnya menjadi macan ASEAN, khususnya di bidang otomotif. Sebab segala sumber daya Indonesia dianggap lebih tinggi dari para tetangga..

Indonesia menurut Wakil Presiden Asia Pasifik bidang Otomotif dan Transportasi dari Frost & Sullivan, Vivek Vaidya memiliki segala potensi untuk memimpin pasar otomotif ASEAN.

Dari sisi jumlah penduduk, Indonesia merupakan yang terbesar dengan lebih dari 230 juta penduduk. Sementara Thailand yang saat ini jadi pemimpin pasar hanya dihuni 30 juta orang. Begitu pula Malaysia dengan 28 juta orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penjualan mobil baru Thailand di 2010 tercatat sebanyak menjadi 800.357 unit. Sementara Indonesia berada di posisi kedua dengan mencatatkan penjualan mobil 764.710 unit. Kemudian Malaysia tetap berada di urutan ketiga yakni 605.156 unit.

"Indonesia punya potensi sangat besar untuk jadi pemimpin pasar di ASEAN. Jumlah penduduk Indonesia jauh lebih besar dari yang lain. Apalagi baru 15-20 orang dari 1.000 penduduk yang punya mobil. Malaysia saja sudah 300 orang dari 1.000 penduduk. Jadi pasar Indonesia lebih potensial menyerap produksi mobil lebih besar dari yang lain," ujarnya di Hotel Intercontinental Mid-Plaza, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (25/1/2011).

Salah satu cara agar industri otomotif Indonesia berkembang adalah dengan menggandeng lebih erat para pelaku usaha di sektor ini.

"Di sini pelaku usaha yang mengajak pemerintah bicara. Kalau disana (Thailand), pemerintah yang mengajak industri bicara," timpal Country Director Frost & Sullivan, Eugene van de Weerd.

Keberhasilan komunikasi pemerintah Thailand yang menjadi lawan terberat Indonesia terbukti dengan berhasilnya mereka memaksa prinsipal untuk memproduksi mobil yang khusus dibuat di Thailand.

"Yang membuat maju industri salah satunya adalah pemerintah yang lebih pro ke pebisnis industri. Salah satu program pemerintah Thailand yaitu dengan meminta dan memaksa ATPM baru untuk membuat pabriknya dengan menggunakan bahan dasar dari Thailand," ujarnya.

Selain itu pemerintah Thailand dengan para pengusaha Thailand memiliki target yang sama, dengan industri otomotif dapat memajukan perekonomian Thailand. Dan yang terakhir, di saat pemerintah Thailand ingin membuat kebijakan, maka pemerintah Thailand bertanya dahulu kepada industri.

"Nissan March adalah contoh nyata. Mereka berhasil membuat March di produksi di sana dan mengekspor ke banyak negara. Bahkan malah bisa mengekspor ke prinsipalnya," pungkas Vaidya.

Menanggapi hal itu Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto sangat setuju.

"Benar sekali. Kalau pemerintah mau sektor ini maju, dukunglah. Jangan bebani industri otomotif dengan beragam tax yang berat. Semoga Indonesia tidak membuat berat, karena kalau sampai itu terjadi ditakutkan para industri lain akan pindah ke negara lain," kata Jongkie.

Padahal dalam membuat satu mobil di Indonesia banyak melibatkan perusahaan-perusahaan industri di dalamnya.

"Kita sangat kuat di Industri otomotif, seperti dalam pembuatan suatu komponen mobil yang melibatkan banyak perusahaan-perusahaan didalamnya. Seperti bada bagian pelek itu melibatkan banyak perusahaan. Begitu juga dengan body dan lain-lain," tambah Jongkie.

(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads