Mimpi Buruk Industri Mobil Jepang

Mimpi Buruk Industri Mobil Jepang

- detikOto
Selasa, 21 Des 2010 08:53 WIB
Mimpi Buruk Industri Mobil Jepang
Tokyo - Industri otomotif Jepang nampaknya akan kembali mendapat ujian. Setelah dihantam gelombang penarikan kembali (recall) di salah satu pasar terbesarnya, Amerika, kini Jepang juga harus bersiap menghadapi kenyataan penurunan penjualan mobil baru di dalam negeri.

Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA) seperti detikOto kutip dari Just Auto, Selasa (21/12/2010) memprediksi kalau pasar mobil baru di dalam negeri mereka akan jatuh hingga sekitar 10 persen di tahun 2011 mendatang.

Dengan begitu, tahun depan pasar mobil Jepang hanya mampu menyerap sekitar 4,4 jutaan mobil saja. Ini adalah mimpi buruk bagi mereka karena merupakan angka penjualan mobil terendah di Jepang dalam 34 tahun terakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asosiasi produsen mobil Jepang tersebut menyalahkan langkah pemerintah mereka yang mengurangi subsidi bagi para pembeli mobil ramah lingkungan.

Jika penurunan itu benar-benar terjadi maka pasar Jepang secara drastis turun tajam hingga 40 persen sejak tahun 1990. Ketika itu pasar mobil domestik Jepang sanggup menyerap 7,7 juta mobil pertahunnya dan merupakan yang terendah sejak tahun 1977 di saat mereka hanya mampu menjual 4,2 juta mobil saja.

Semua skenario buruk bagi industri otomotif Jepang itu disampaikan langsung oleh Toshiyuki Shiga yang merupakan chairman JAMA.

"Kami berharap dapat melihat pertumbuhan bulanan year-on-year sekitar musim gugur nanti dengan meluncurkan mobil-mobil baru dan promosi penjualan," ujarnya.

Meski begitu, asosiasi produsen mobil Jepang ini percaya penjualan mobil-mobil Jepang di pasar internasional dapat tumbuh dengan baik karena adanya proses pemulihan di AS dan permintaan yang kuat di China.

JAMA juga meramalkan kalau tahun 2010 ini akan berakhir dengan penjualan total hingga 4,9 jutaan atau meningkat 7,5 persen dibandingkan tahun 2009. Kenaikan ini adalah berita baik bagi mereka. Sebab ini merupakan kenaikan pertama dalam enam tahun terakhir.

(syu/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads