Tiada Pajak Progresif, Penjualan Mobil Bisa Capai 800.000 Unit

Tiada Pajak Progresif, Penjualan Mobil Bisa Capai 800.000 Unit

- detikOto
Senin, 11 Okt 2010 15:38 WIB
Tiada Pajak Progresif, Penjualan Mobil Bisa Capai 800.000 Unit
Jakarta - Penjualan mobil di 2011 diprediksi bakal melebihi 800.000 unit. Itu dengan catatan beberapa pajak seperti progresif dan kenaikan pajak penjualan barang mewah tidak jadi diberlakukan

Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur PT Toyota-Astra Motor Johnny Darmawan di sela-sela penyerahan JD Power kepada Toyota di Ballroom I RitzCarlton, Jakarta, Senin (11/10/2010).

"Saya yakin penjualan mobil Indonesia pada 2011 bisa di atasΒ  800 ribu unit lebih. Pelan-pelan kita akan melebihi penjualan otomotif Thailand," kata Johnny yang juga merupakan Ketua III Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya penjualan itu bakal tembus dengan syarat pajak progresif dan pajak-pajak lainnya tidak membebani industri otomotif Indonesia. "Tetapi kalau progresif dan pajak mobil mewah tidak diberlakukan. Kalau semua pajak itu tidak ada semua akan oke," ucap Johnny.

Namun pemerintah soal pajak progresif tidak ada kompromi lagi. Di Jakarta pajak progresif akan berlaku mulai 1 Januari 2011 mendatang. Di mata beberapa pihak apalagi produsen otomotif, kebijakan pemerintah ini dianggap sebuah blunder.

Sebab tujuan utama pemerintah menerapkanΒ  pajak progresif sambil mengendalikan dampak negatif kendaraan terhadap lingkungan tidak akan tercapai bila pemerintah sendiri tidak menyiapkan diri mereka ke arah yang lebih baik.

"Tujuannya memang untuk mengendalikan jumlah kendaraan, tapi tidak akan sampai bila transportasi yang baik belum ada," ujar Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata di Jakarta.

Masyarakat, menurut Presdir Indomobil Group ini memilih membeli kendaraan pribadi baik itu mobil maupun motor karena kondisi transportasi publik di Indonesia masih belum baik.

Bila kondisi transportasi publik sudah memadai, Gunadi memperkirakan penjualan di sektor otomotif ini dengan sendirinya akan turun secara alamiah.

Sementara bila mengaitkan pajak progresif dengan lingkungan, Gunadi mengatakan kondisi dan standar bahan bakar di Indonesia masih sangat buruk. Inilah faktor yang sebenarnya memperburuk polusi di Indonesia.

Bila pemerintah bisa mendistribusikan BBM dengan kualitas yang baik, emisi gas buang kendaraan tentu akan jauh menurun. Jadi bisa dibilang kebijakan pemerintah menerapkan berbagai rintangan terhadap industri otomotif bisa dipandang sebagai bentuk jalan pintas disaat pemerintah masih belum mampu menyediakan transportasi massal yang memadai dan kualitas BBM yang baik.

"Ini tidak akan memberikan kontribusi maupun manfaat yang posisif baik untuk industri kendaraan bermotor maupun jumlah kendaraan bermotor di Indonesia," pungkasnya.

"Padahal para pembeli motor maupun harusnya diberi bintang jasa yang besar karena membayar pajak, menumbuhkan produksi dan menambah jumlah tenaga kerja di Indonesia," tukasnya.

Di Indonesia sendiri hingga bulan Agustus 2010 lalu telah terjual 507.058 unit mobil dan 5.030.865 unit motor.

Dan diprediksi tahun 2010 ini baik industri motor maupun mobil akan menemui titik puncak dan mencetak rekor penjualan terbesar.

Untuk penjualan mobil Johnny memperkirakan pasar mobil Indonesia akan mencapai 720 ribu unit.

Prediksi itu dikarenakan penjualan mobil di beberapa bulan terakhir menembus angka 60 ribu unit. Bahkan 70 ribu unit tembus di September 2010.

Pada bulan Januari-Oktober 2010 penjualan mobil sudah mencapai 550 ribu unit. Berarti untuk tembus 720 rubu unit di 2010, paling tidak penjualan mobil harus tembus 70 ribu di 3 bulan terakhir.

"Market kita lebih besar dari Thailand, saya yakin 720 ribu unit bakal tembus sampai akhir tahun," ucap Johnny.

Sedangkan penjualan motor menurut Gunadi bakal diperkirakan menembus 7 juta motor hingga akhir tahun nanti.

(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads