Prabowo Sesalkan Tidak Adanya Mobil dan Motor Nasional

Prabowo Sesalkan Tidak Adanya Mobil dan Motor Nasional

- detikOto
Rabu, 29 Sep 2010 12:53 WIB
Prabowo Sesalkan Tidak Adanya Mobil dan Motor Nasional
Jakarta - Di tahun 2010 ini penjualan mobil dan motor di Indonesia diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi dalam sejarah. Namun bila mau jujur, kue besar di pasar otomotif nasional tidak dinikmati oleh produsen mobil asli Indonesia, melainkan dinikmati negara lain.

Indonesia masih belum memiliki mobil nasional yang memiliki cakupan pasar yang luas.

Melihat kondisi seperti itu, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto pun gerah. Apalagi bila melihat kenyataan mobil-mobil hasil pabrikan luar tersebut memenuhi dan membuat macet jalan-jalan di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ratusan ribu motor dan mobil memenuhi jalan. Tapi tidak ada mobil dan motor buatan Indonesia. Apakah ini menguntungkan kita? Mereka hanya membuang dampak kemacetannya itu di negara kita," ungkapnya saat didaulat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi bertajuk 'Tanah Untuk Rakyat' di Hotel Le Meriden, Jl Sudirman, Jakarta, Rabu (29/9/2010).

"Tiap hari macet. Sebentar lagi mungkin kita nggak bisa bergerak. Oleh karena itu saya mendukung ibukota pindah dari Jakarta. Tapi kalau kita punya uang," imbuhnya.

Wacana pemindahan ibukota dari Jakarta akibat berbagai masalah terutama kemacetan yang terus menggurita memang masih bergulir. Prabowo pun mendukung gagasan tersebut, namun dengan syarat anggaran yang cukup.

Mantan Danjen Kopassus tersebut menegaskan, pemindahan ibukota harus dibarengi dengan perbaikan kondisi keuangan negara. Selama ini, anggaran pemerintah selalu defisit sehingga perlu perencanaan matang soal wacana tersebut.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memunculkan tiga opsi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Pertama, membenahi Jakarta dengan membangun segala prasarana dan sarana transportasi yang baru di permukaan, di bawah permukaan, di atas permukaan.

Opsi kedua, melakukan pemisahan antara ibukota negara dan pusat pemerintahan. Ketiga, membangun ibukota yang baru. Ketiga opsi itu, masing-masing memiliki kelemahan dan kekurangan namun wajib diputuskan.

(syu/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads