Nasib Naas Bemo di Jakarta

Nasib Naas Bemo di Jakarta

- detikOto
Jumat, 09 Jul 2010 17:20 WIB
Nasib Naas Bemo di Jakarta
Jakarta - Sadeli dengan khusuk menghisap rokok kretek yang dibelinya secara ketengan. Dengan tenang dia bercerita bagaimana naasnya nasib Bemo di Jakarta saat ini.

Pria yang kini berusia 51 tahun tersebut mengaku sejak umur 17 tahun menyandarkan hidup pada moda transportasi yang memiliki singkatan 'becak motor' dan memiliki tiga roda ini.

"Saya mulai narik Bemo sejak tahun 1975, ketika itu narik Bemo enak sekali. Dalam sehari saya bisa mendapat penghasilan bersih sampai Rp 200an. Kalau sekarang nilai uang itu bisa dua kali lipatnya kan," cerita Sadeli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun kini keadaan telah berubah. Sadeli yang mengemudikan Bemo dengan rute Karet-Tanah Abang ini kini hanya bisa mengantongi uang paling banter hanya Rp 130 ribu. Itu pun masih kotor.

"Kalau dipotong setoran Rp 40 ribu, bensin dan oli samping Rp 55 ribu, paling banter saya pegang bersih cuma Rp 35-40 ribu saja," terang Sadeli.

Keadaan tersebut tentu mengenaskan. "Buat bayar kontrakan saja tidak bisa, apalagi buat yang lain. Untungnya ada yang mau menampung saya di daerah Cengkareng jadi saya bisa tinggal tanpa perlu bayar sewa," jelasnya.

Bemo sendiri merupakan moda transportasi yang cukup popoler di pertengahan 60-80an. Debut kendaraan bertampang unik ini dimulai ketika event olahraga Genefo diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1962. Dari situ, Bemo pun langsung populer di masyarakat dan berangsur menggantikan peran becak berkat kepraktisannya dan kecepatannya melibas jalanan Jakarta.

Kendaraan berwajah lucu yang saat ini banyak berkeliaran di jalanan, terutama Jakarta adalah kendaraan produksi Daihatsu dengan nama Daihatsu Midget. Di Jepang sana, Daihatsu Midget hanyalah sebuah kendaraan pengangkut barang, tapi ketika dijual ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia, Daihatsu Midget pun bertransformasi menjadi moda angkutan penumpang dengan memasangkan tempat duduk di bagian belakang kendaraan.

"Dengan begitu bisa ngangkut penumpang 6-8 orang di belakang," ujarnya. "Tapi sekarang sudah susah, sudah banyak saingan, terutama angkot atau mikrolet," keluhnya.

Para calon penumpang, cerita Sadeli, kini lebih memilih naik mobil mikrolet dibanding menumpang di Bemo. Sebab selain lebih nyaman, angkot juga terasa lebih lega.

Kesedihan Sadeli makin menjadi di saat ini, dimana cuaca sangat tidak jelas. Padahal menurutnya, hujan adalah salah satu musuh utama para penarik Bemo selain kemacetan Jakarta yang sudah menggurita.

"Kalau hujan terus kayak sekarang penumpang jadi sepi. Soalnya Bemo kalau hujan atapnya basah karena tampias (rembes)," jelas Sadeli.

Kenaasan Bemo pun bertambah ketika muncul Instruksi Gubernur Nomor 33 tahun 1996 Tentang Peningkatan Pelayanan dari Kendaraan Bemo menjadi Bus Kecil. Berbekal surat tersebut, Pemprov Jakarta rencananya akan melakukan 'penertiban besar-besaran' dan tahun 2011 Bemo ditargetkan dapat diberangus dari seluruh jalanan di Jakarta.

"Tidak tahu-lah mas. Hidup sekarang makin susah saja, makin blangsak. Tidak tahu besok harus bagaimana," ujar Sadeli pasrah.

(syu/ddn)

Berita Terkait