Alasannya pun sangat klise, yakni dikarenakan insfrastruktur mobil listrik di RI belum tersedia.
"Kita lihat dari berbagai macam aspek, sepertinya Indonesia belum siap menerima mobil listrik karena ketersediaan infrastruktur yang kurang memadai," kata Direktur Marketing PT Nissan Motor Indonesia Teddy Irawan kepada ketika dihubungi detikOto, Selasa (1/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia dalam waktu dekat belum siap," ucapnya.
Karena itulah lanjut Teddy ketersediaan infrastruktur mobil listrik yang kurang memadai menjadi penghalang mobil listrik masuk RI.
"Infrastruktur mobil listrik yang belum siap menjadi penghalang. Kalau persiapannya sudah matang tidak jadi masalah. Nanti konsumen nyolok untuk ngisi listirknya dimana?" tanya Teddy.
Namun seperti apa yang dijelaskan Teddy berbeda dengan negara maju seperti AS dan Jepang. "Di negara maju contohnya AS berbeda, mereka sudah sangat siap, dan kita masih jauhlah," ujarnya.
Untuk itu Teddy mengisyaratkan industri otomotif saat ini fokus saja ke mobil yang digerakan oleh bahan bakar, begitu pula dengan PT NMI selaku distributor mobil merek Nissan. "Kita fokus dulu saja ke mobil bensin," imbuhnya.
Di AS Nissan telah menerima pemesanan mobil listrik seharga US$ 25.280 (sekitar Rp 250 jutaan) ini sebanyak 13.000 unit melebihi pasar Jepang yang hanya mencapai 6.000 unit sejak diumumkan. Bahkan kebanyakan pemesan atas nama individu, bukan perusahaan secara kolektif.
Nissan Leaf bisa dikemudikan sejauh 160 km, memiliki kecepatan tertinggi 145 km per jam, dan pengisian ulangnya hanya butuh waktu 30 menit atau 20 jam.
(ikh/ddn)












































Komentar Terbanyak
Jawaban Pindad soal Prabowo Minta Desain Mobil Khusus Presiden Sapa Rakyat
BYD Luncurkan Denza N9 Flash Charge: Jarak Tempuh 1.520 Km, Ngecas Cuma 9 Menit
Prabowo Minta Pindad Bikin Mobil Presiden Khusus buat Sapa Rakyat