Menanggapi hal tersebut Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian Budi Darmadi langsung angkat bicara.
"Mengenai hal itu, ada banyak terminology dapat digunakan, sebagai contoh bila dilihat dari terminology social semua motor bebek di Indonesia pasti memiliki kemiripan," ujarnya ketika berbincang dengan detikOto, Rabu (2/9/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus dihitung berapa cm, berapa mm hingga berapa besar derajat kemiripan disain bodi yang digunakan kedua produk itu, sama tidak," ujarnya.
Sebab sebagai negara hukum, hal itu merupakan hal yang mutlak harus diperhitungkan agar jangan sampai setiap pabrikan yang memiliki produk yang
βsedikit miripβ jadi saling berseberangan.
"Bila mau menggunakan terminology social, semuanya bisa berantem, karena itu harus dikaji sisi teknisnya," tandasnya.
Depperin sendiri menurut Budi hanya mengeluarkan izin produksi sebuah produk yang didaftarkan dan semua itu sudah dikaji dan diteliti terlebih dahulu.
"Jadi tidak sembarangan," pungkasnya.
Karena itulah daripada melihat kasus ini menjadi bola panas, Budi malah
menyarankan. "Inikan sudah masuk ranah hukum, biarlah hukum yang menilai siapa diantara keduanya yang benar," ujarnya.
Budi juga mengatakan bahwa pernah dipajangnya motor Viar di Depperin bukan suatu masalah. "Karena kita memang memanjang semua industri yang ada di Indonesia, apa pun itu," pungkasnya.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Ribuan Pikap India buat Kopdes Merah Putih Telanjur Masuk Indonesia
Warga Ngeluh Bayar Pajak Kendaraan Dipersulit, 'Nembak' KTP Asli Rp 700 Ribu
Konversi 120 Juta Motor Bensin ke Listrik Terancam Gagal, Cuma Jadi Ilusi