Sejak tahun 1993, Wiwid bergerilya untuk memburu komponen-komponen orisinal guna mendukung tampilan WLA HD kepunyaannya seperti sedia kala.
"Kurang lebih habis 3 tahunan buat saya bisa membangun kembali motor ini,"
ujarnya sehabis menerima gelar jawara tersebut, di Patra Jasa Hotel, Semarang, Kamis (13/8/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama dan paling utama adalah orisinalitas dari berbagai komponen yang
terdapat pada motor-motor tua tersebut. "Kita melihat, seberapa banyak
orisinalitas yang dikandung motor-motor tersebut," bilangnya.
Selanjutnya, pemilik bengkel motor tua pertama dan terbesar di Semarang ini
menerangkan, selain orisinalitas, dilihat juga seberapa besar masyarakat
menyukai bentuk dan desain dari motor-motor tersebut.
Kemudian, detail-detail yang terdapat pada motor-motor tersebut, seandainya
komponen tersebut sudah tidak orisinal lagi, atau replika.
"kita lihat kerapihan buatannya, juga kemiripannya sejauh mana," ujar Sugiman.
Terakhir adalah mengenai perawatan. Para juri akan menilai bagaimana pemilik mempertahankan eksistensi dari motor-motor klasik kepunyaannya. "Jangan sampai, mentang-mentang motor tua jadi bisa dimaafkan ketika ada salah satu komponennya yang berkarat," ujarnya.
Akhirnya motor Wiwid jadi jawara. Awalnya, Wiwid tidak banyak berharap motor yang dibangunnya bisa hidup. Sekedar hidup saja mesinnya sudah memberikan kepuasan tersendiri baginya yang memang hobi motor sejak lama.
Wiwid hobi kepada motor Harley-Davidson karena sensasi ketika ia berjuang untuk membuat motor lawasnya kembali seperti semula saat dulu masih berjaya di zaman Perang Dunia.
Selain itu, kenikmatan saat ia memburu komponen demi komponen demi melengkapi orisinalitas sang WLA keluaran tahun 1941 ini. "Dan tentunya nilai sejarahnya yang tidak bisa ditukar begitu saja," bilangnya.
WLA 750 1941 memiliki bobot yang besar dengan bodi yang panjang. Disertai satu buah jok depan yang terpisah dengan jok plat besi pada bagian belakang. Bentuknya mirip dengan jok sepeda ontel, namun bedanya pada motor ini bagiannya lebih besar.
Bentuk tangki lebar, yang menyerupai lekukan pelatuk burung. Pada bagian depan, sebagai pelindung lutut, di kedua sisinya terdapat tameng. Dilengkapi dengan sebuah tempat penyimpanan senjata pada sisi kanan depan.
Berkapasitas mesin 750 cc, dengan 3 perpindahan gigi, berpendingin udara, WLA sangat berjaya di zamannya, tertama aksi-aksinya ketika di medan perang.
"HD WLA ini memang dirancang sebagai kendaraan militer yang dahulunya di
Indonesia digunakan para tentara Jepang," bilang Wiwid.
Terakhir, Wiwied mengemukakan bagaimana merawat motor lawas kesayangannya
tersebut, sehingga dari segi tamppilan dan daya tahan tetap bisa memiliki
eksistensi yang unik dan eksotis.
"Motor tua ya seperti orang tua, dirawatnya harus telaten, lembut, dan
hati-hati," tutupnya.
(bgj/ddn)












































Komentar Terbanyak
Prabowo Mau Buka Pabrik Mobil di RI: Kenapa Kita Jadi Pasar Mobil Orang Lain?
BBM Shell Kosong, Bahlil: Negara Nggak Cuma Ngurus 1 Kelompok!
Sindir Mobil Gubernur Rp 8 M, Prabowo: Mobil Presiden Saja Rp 700 Juta