Hal tersebut dikemukakan oleh Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata kepada detikOto, Rabu (5/8/2009).
"Pajak ini jelas sangat kontra produktif untuk industri otomotif kita," pungkasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dipertanyakan. Karena bila tujuan utama pajak ini adalah untuk meningkatkan pendapatan pemerintah khususnya pemerintah daerah, menurut Gunadi ada hal yang lebih efektif untuk dilakukan.
"Bila memang ingin mencari uang, lebih baik pemerintah menurunkan pajaknya saja, karena bila pajak turun, pembelian kendaraan akan makin banyak dan pendapatan pemerintah pun akan bertambah," jelas Gunadi.
Dan bila alasan penerapan pajak progresif itu untuk mengurangi kemacetan, Gunadi pun teryata juga siap membantah hal tersebut.
Karena menurutnya, kemacetan yang terjadi di Indonesia menurut Gunadi bukanlah terjadi akibat banyaknya jumlah kendaraan yang ada di negeri kita.
Tapi lebih disebabkan karena masih minimnya infrastruktur transprtasi seperti jalan raya misalnya.
Kendaraan di Indonesia menurut pria yang juga menjabat sebagai Presdir Indomobil Group ini pun terbilang masih sedikit, apalagi bila kita membandingkannya dengan Jepang yang pertumbuhan kendaraan pertahunnya lebih dari 6 juta.
"Pertumbuhan mobil di Indonesia hanya 600.000 per tahun, tapi sudah menyebabkan macet, sedangkan di Jepang yang lebih dari 6 juta pertahun tidak bikin macet, jadi kan yang salah bukan pertumbuhan kendaraannya, tapi fasilitas jalan yang pemerintah berikan memang masih minim, jangan salahkan kita donk," papar Gunadi.
Gunadi pun menjelaskan bahwa industri otomotif di negara kita merupakan salah satu lokomotif penggarak ekonomi, jadi bila industri ini diusik akan berpengaruh besar terhadap bidang lain.
"Kalau pertumbuhan di sektor ini dihalau dengan pajak itu, sektor lain juga akan berimbas kasihan kan," ujar Gunadi.
Namun meski menentang keras rencana penerapan pajak progresif tersebut, Gunadi mengaku pasrah terhadap keputusan pemerintah.
"Kita mah sebagai pelaku industri hanya bisa pasrah, kan pemerintah yang punya kuasa, tapi memang alangkah baiknya bila mereka bijaksana," tandas Gunadi.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Intip Garasi Gubernur Terkaya di RI yang Hartanya Tembus Rp 900 Miliar