Sehingga tidak lagi meributkan mahalnya bea masuk mobil tersebut yang mencapai ratusan persen.
Hal tersebut dinyatakan anggota Tim Sukses JK Wiranto yang juga ekonom Fadhil Hasan ketika berbincang dengan detikOto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengingat pasar Indonesia yang potensial, untuk jangka panjang seharusnya mobil-mobil hybrid justru harus diproduksi di Indonesia.
"Soalnya, kalau hanya insentif, kan mengurangi penerimaan negara, selain itu produsen dalam negeri malah bisa terdesak," tukasnya.
Seandainya pun ada insentif, tambah Fadhil sebaiknya dilakukan secara bertahap dan diupayakan berjalan selaras dengan kebijakan energi nasional.
(bgj/ddn)












































Komentar Terbanyak
Penjelasan Pertamina soal Harga Pertamax Tiba-tiba Naik 10 Juni
Cerita Prabowo Naik Maung: Atap Bocor, Bunyi Gledak-gledak
Bikin SIM Digital Nggak sampai 5 Menit, Tanpa Biaya