GM di Korea Juga Minta Bantuan

GM di Korea Juga Minta Bantuan

- detikOto
Kamis, 12 Feb 2009 14:48 WIB
GM di Korea Juga Minta Bantuan
Jakarta - Orang bilang buah jatuh tidak jauh dari induknya, like father like son. Pepatah ini terjadi di General Motors. Setelah GM di AS meminta pemerintah AS memberikan dana talangan, kini giliran anak perusahaan GM di Korea Selatan, GM Daewoo mengikuti langkah GM meminta bantuan pemerintah.

GM Daewoo juga meminta Pemerintah Korsel untuk memberikan dukungan, termasuk bantuan keuangan untuk mengatasi kesulitan industri otomotif yang cenderung semakin menurun dalam dekade terburuk.

Seperti dikutip dari Reuters, Kamis (12/2/09), Presiden dan CEO GM Daewoo Auto & Technology Michael Grimaldi, Rabu 11 Februari 2009 kemarin sudah bertemu dengan Menteri Ekonomi dan Teknologi Korea Selatan Lee Youn-ho

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Presiden GM Daewoo berkata kepada menteri, bantuan likuiditas itu akan membantu manajemen perusahaan, walaupun kita tidak terlalu membutuhkannya dalam waktu yang mendesak," ujar Hwang Nam-chul, juru bicara perusahaan melalui telepon.

Pejabat kementrian enggan berkomentar mengenai permintaan bantuan tersebut, tetapi media lokal mengatakan, pemerintah telah menolak dan tidak memiliki rencana untuk mendukung perusahaan otomotif ketiga di Korea Selatan ini.

Seperti yang diberitakan Yonhap News Agency yang mengutip perkataan Menteri, GM harus menjelaskan rencana GM Daewoo di dalam proses restrukturisasi, serta upaya inisiatif mengenai kesepakatan dari GM Daewoo sendiri terhadap industri yang cenderung semakin menurun, sebelum meminta bantuan pemerintah.

GM dan 2 produsen otomotif lain di AS yakni Ford dan Chrysler sebelumnya telah diberikan dana talangan pemerintah AS senilai US$ 17,4 miliar. Pemerintah lainnya, seperti Kanada telah memutuskan untuk memberikan bantuan keuangan
kepada GM

Keruntuhan tiba-tiba permintaan konsumen di tahun terakhir dan kekacauan dalam kredit yang memiliki pengaruh terhadap pasar produksi otomotif global, memaksa mereka untuk memotong produksi dan pekerjaan, semakin menambah kesuraman ekonomi global. (bgj/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads