Kamis, 27 Jun 2019 10:11 WIB

Campur Zat Aditif Tambahan pada Bensin, Bolehkah?

Ridwan Arifin - detikOto
SPBU Shell. Foto: Grandyos Zafna SPBU Shell. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Beragam zat aditif seperti penambah oktan produk aftermarket muncul di pasaran. Hal ini merupakan siasat bagi para pengguna kendaraan bermotor untuk meningkatkan oktan BBM.

Menurut Fuel Scientist Shell Global, Andreas Shaefer hal ini sangat tidak dianjurkan sebab bukan tidak mungkin akan berimbas kepada penurunan performa mesin.



"Produk zat aditif aftermarket yang dilakukan oleh konsumen, sangat jelas kami tidak merekomendasikan," ungkap Andreas di Jakarta, Rabu (26/06/2019).

"Bisa saja bisa menimbulkan efek yang negatif, sebab tidak hanya bicara bahan bakar. Bensin juga berdampak kepada mesin. Sangat spekulatif, (efek negatif) tergantung dari formula yang digunakan. Tapi pastinya perusahaan OEM otomotif tidak merekomendasikan zat aditif aftermarket tambahan," jelas Andreas.



Lebih lanjut Andreas mengatakan sebelum dilempar ke pasaran, produk bahan bakar sudah mengalami proses uji laboratorium. Ia beralasan, setiap bahan bakar memiliki kadar oktan berbeda-beda. Dikhawatirkan fungsi yang ada pada bahan bakar akan hilang jika ditambah zat aditif lainnya.

"Kami pikir sudah membuat keseimbangan dalam formulasi bahan bakar, yang sudah dites dan membagikannya manfaatnya kepada konsumen, tanpa ada efek yang bisa merusak kendaraan," kata Andreas.

"Jika Anda memasukkan produk aftermarket zat aditif ke dalam tangki bahan bakar. Bisa menimbulkan hal yang di luar dugaan yang tidak sesuai dengan rekomendasi pabrikan OEM dan merusak garansi kendaraan," jelasnya.

Simak Video "Pertamina Pastikan Stok BBM Selama Arus Mudik Aman"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed