Direktur Jakarta Defensif Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, sepertinya bisa memberikan sedikit gambaran mengenai aktifitas pengereman sebagai bagian dari dinamika kendaraan.
Pertama paradigma yang salah ketika membicarakan rem. Saat mobil direm, kadang terdengar bunyi decitan, maka itu adalah rem yang pakem. Benarkah? ternyata tidak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang kaki sudah menginjak pedal rem, namun mobil belum tentu berhenti, karena ternyata bunyi decitan pertanda roda tidak berputar, tapi terseret. Saat seperti itu tidak ada yang bisa dilakukan, karena mobil tidak akan bisa dikendalikan.
"Kuncinya adalah, bagaimanapun keadaan mobil, usahakan roda tetap berputar," ujarnya.
Karena ketika roda hanya terseret, tidak akan ada traksi, walaupun setir dibelokkan ke kanan atau kiri, tetap saja laju mobil tidak bisa diarahkan. "Orang sering bilang, itu rem nya blong, padahal tidak!" ujarnya.
Sehingga, saat ini sangat disarankan setiap mobil sudah menggunakan teknologi Anti Lock Brake Sistem (ABS), karena fitur tersebut bisa menjaga roda tetap berputar meskipun kita melakukan pengereman ekstrim.
Meskipun, Jusri tetap menyarankan, ketika melakukan pengereman jangan menunggu keadaan mobil terdesak, sehingga terpaksa melakukan pengereman.
"Akan lebih baik kalau kita mengantisipasi, sehingga bisa memperkirakan kapan waktu mengerem yang baik," tambahnya.
(bgj/ddn)












































Komentar Terbanyak
Menlu Sugiono Ungkap Alasan Presiden Prabowo Bawa Maung di KTT ASEAN Filipina
Duh! Ketua DPRD Naik Moge Nggak Pakai Helm
Wacana KDM Hapus Pajak Kendaraan-Diganti Jalan Berbayar: Biar Adil