Senin, 15 Jun 2020 18:26 WIB

Ngeri Banget! Benang Layangan Bisa Menyayat Leher hingga Telinga Pemotor

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Perajin menggulung gelasan atau benang untuk layang-layang di Kampung Gelasan, Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (14/2/2020). Kampung Gelasan yang telah ada sejak 1990-an tersebut dapat memproduksi 500 lusin gelasan per hari yang dijual dari harga Rp3.000 hingga Rp20 ribu serta diminati oleh pehobi layang-layang adu di berbagai negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc. Pemotor harus waspada terhadap benang layang-layang yang melintang. Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Jakarta -

Menjelang musim kemarau seperti ini saat hari cerah, banyak anak-anak yang bermain layang-layang. Namun, benang layang-layang sering membahayakan pengendara sepeda motor yang melintas.

Pekan kemarin, seorang pria pengendara sepeda motor tewas setelah lehernya tersayat benang layang-layang. Menghindari kecelakaan serupa, pengendara sepeda motor harus bisa mengantisipasinya.

"Antisipasi dari kita (pengendara sepeda motor), lengkapi safety gear (perlengkapan berkendara) kita. Helm full face atau helm yang menggunakan windshield (kaca helm), kemudian jaket minimal denim. Cara menggunakan jaket, bagian leher harus dikunci/dikancingi," kata instruktur keselamatan berkendara yang juga founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, saat berbincang dengan detikcom melalui sambungan telepon, Senin (15/6/2020).

Pemotor juga bisa menambahkan balaclava atau buff yang juga menutupi bagian leher. Jusri menyebut, penggunaan balaclava bisa mencegah kemungkinan terburuk dari leher tersayat benang layang-layang.

"Itu juga akan membantu. Bukan ditaruh di dalam, sebaiknya di luar dari jaket yang bagian lehernya dikancingi tersebut. Ini paling tidak bisa meminimalisir risiko cedera ketika betul-betul kita lalai ada benang yang melintas," sebutnya.

Memang, untuk naik sepeda motor, menggunakan jaket berbahan kulit paling ideal. Tapi, menurut Jusri, pakai jaket denim saja sudah cukup, ditambah helm dan buff yang menutup leher.

"Menutup atau mengancingi kerah jaket kita itu sudah lumayan. Tapi tetap ada celah antara helm sama leher kita. Pada saat dia (benang) turun ke bawah, kan dia nyangkut dulu sebelum ke bagian bawah leher. Dengan adanya kerah yang tertutup (jaket yang dikancingi sampai leher) dan buff, dia (benang) akan turun ke bagian bawah yang sudah terlindungi jaket dan lain-lain," ucap Jusri.

Benang layangan yang cukup tajam bisa mencederai bagian badan mana pun kalau tidak terlindungi. Untuk itu, paling tidak Jusri menyarankan agar pemotor selalu menggunakan helm dan jaket.

"Bagian yang paling fatal memang adalah bagian leher. Padahal peluang kena itu dari tangan, badan, bahkan kadang bisa saja (posisi benangnya) bukan melintang, tapi benang itu sejajar dengan arah kita, itu bisa mengiris kuping kalau kita nggak pakai helm," sebut Jusri.



Simak Video "Layang-layang dari Kantong Plastik Bekas, Banjarmasin"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com