Engineer PT Tarakusuma Indah, Mugiyono mengatakan tidak sampai dua tahun karet pada helm bisa hancur lebih cepat.
"Kalau (helm) ini (disimpan) di etalase, enggak pernah dipakai, dia lembab, enggak kena angin, enggak pernah dikeluarkan, malah ini bisa hancur, kalau enggak percaya buktiin," jelasnya kepada.wartawan, di Kemayoran, Jakarta Utara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya keliling toko, dia enggak pernah dibuka, enggak pernah diapa-apain, hancur karet-karetnya," tutur Mugi.
Selain itu kata Mugi, bentuk helm yang berbeda-beda tidak memengaruhi tingkat keamanan dan kenyamanan saat digunakan untuk berkendara.
"Sebelum produksi massal, sebelum helm diluncurkan, kita sudah tes dulu dari segi pemakaiannya, kita sudah tes dulu. Jadi kita tes dulu, kurangnya apa, kita tambahin, baru kita luncurkan. Enggak segampang jadi langsung diluncurkan, enggak semudah itu," pungkasnya. (khi/ddn)












































Komentar Terbanyak
2 Pabrik Otomotif Jepang di RI Cabut ke Vietnam, Ribuan Pegawai Kena PHK
2 Pabrik Otomotif Jepang di RI Mau Cabut ke Vietnam, Ini Alasannya
Harga Asli Pertalite Rp 18.040/Liter Lebih Mahal dari Pertamax, Begini Kata Pertamina