Spion juga bisa menjadi salah satu indikator apakah motor memiliki cukup ruang untuk menyalip atau tidak.
"Spion itu jangan diganti yang lebih kecil, pakai yang spion standar pabrikan saja, yang pertama kacanya dia jernih nggak getar, terus spion yang bagus itu panjangnya lebih dari stang motor. Itu indikator jadi kalau kita mau nyalip gak bisa udah kena kaca spion jadi jangan maksain untuk nyalip," kata instruktur safety riding Queenrides, Citra Ayu Lestari kepada detikOto, Jumat (19/5/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Spion paling panjang kena hentakan dari depan paling hanya menekuk aja, tapi kalau yang panjang stang, kita yang ditabrak stang duluan keleselurhan kendaraan kita oleng cuma tambahan mirror atau kaca spion," jelas Citra.
Citra menambahkan kebiasaan buruk lain yang dilakukan pengendara motor adalah menaruh helmnya di kaca spion. Hal itu bisa menghilangkan fungsi utama dari kaca spion untuk melihat dan mengetahui kondisi di belakang kendaraan kita.
Ia juga menyarankan saat berkendara sebaiknya kita sering-sering melihat ke kaca spion. Itu karena bahaya tidak muncul dari arah depan dan samping saja namun bisa juga dari belakang. Sering mengecek spion kata Citra juga tak akan mengganggu konsentrasi si pengendara.
"Ngecek spion itu minimal 8-10 detik sekali selama berkendara, untuk apa kita kalau melihat bahaya dari depan kan kelihatan tapi kalau melihat bahaya dari belakang kan kita nggak pernah tau jadi makanya lihat dari spion," tutupnya. (dry/lth)












































Komentar Terbanyak
Permintaan Maaf Pemobil yang Konvoi Zig-zag di Tol Becakayu
Kebut-kebutan di Tol JORR, Endingnya Pajero Sport-BMW Ringsek!
Katanya Dikembalikan, Gubernur Kaltim Kok Pakai Range Rover Berpelat KT 1?