Tabrakan Beruntun Chacha Sherly, Praktisi: Tak Mudah Ngerem di Cuaca Buruk

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Rabu, 06 Jan 2021 10:13 WIB
ilustrasi kecelakaan mobil dan truk, tabrakan
Chacha Sherly terlibat kecelakaan beruntun. Praktisi keselamatan berkendara menilai mengerem saat kondisi hujan tak mudah. Foto: Ilustrasi: Andhika Akbaryansyah
Jakarta -

Mantan personel Trio Macan, Chacha Sherly, terlibat kecelakaan beruntun di Tol Semarang-Solo KM 428, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (4/1/2021) sore. Chacha Sherly meninggal dunia setelah mengalami cedera berat di bagian kepala dan sempat tak sadarkan diri.

Kecelakaan beruntun itu terjadi ketika jalan sedang basah diguyur hujan. Dalam video detik-detik kecelakaan di Tol Semarang-Solo yang beredar di media sosial, kondisi jalan saat itu sedang licin. Tabrakan beruntun tak terhindarkan.

Praktisi keselamatan berkendara yang juga Senior Instructor Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menilai melakukan pengereman mendadak di cuaca buruk tidak mudah. Mengandalkan fitur-fitur safety pada kendaraan hanya 20%, sisanya mengandalkan hardskill atau reaktif pengemudi (30%), dan kondisi lingkungan (50%).

"Jadi salah kalau ada pengemudi berpikiran bisa dengan mengandalkan hardskill," kata Sony kepada detikcom, Rabu (6/1/2021).

Menurut Sony, teknik menghindari tabrakan beruntun yang paling tepat adalah dengan menjaga jarak. Dia menyarankan saat kondisi normal pengemudi menjaga jarak dengan kendaraan lainnya dengan prinsip 4 detik.

Artinya, antara mobil di depan dengan mobil yang kita kendarai perlu ada jarak empat detik. Asumsi dari perhitungan ini berdasarkan respons manusia yang membutuhkan 1,5 hingga 2 detik plus reaksi mekanik pengereman yang membutuhkan waktu antara 0,5 hingga 1 detik. Jika kendaraan di depan melakukan manuver, dengan menjaga jarak empat detik maka pengemudi bisa melakukan antisipasi atau menghindar.

Empat detik yang dimaksud dihitung dari kendaraan yang dikemudikan dengan kendaraan lain di depan. Pengemudi bisa mencari objek statis seperti pohon atau tiang untuk dijadikan patokan menghitung. Misalnya, bila mobil di depan sudah melewati satu titik, ditandai dengan tiang listrik, maka empat detik kemudian mobil yang kita kemudikan melewati titik yang sama, artinya sudah memiliki jarak aman dengan mobil di depan.

Selain jaga jarak, menghindari tabrakan beruntun bisa dilakukan dengan pengereman dengan teknik pulse atau pompa untuk mobil tanpa fitur ABS dan menekan untuk mobil ABS.

"Lihat spion, kemudian menghindar ke arah yang aman, ke kanan kalau berada di lajur kanan karena visibilitasnya pengemudi lebih besar dan menghindar ke kiri kalau berada di lajur kiri. Tapi ingat bahwa menghindar harus mempertimbangkan kondisi lalu lintas," ujar Sony.

[Gambas:Instagram]



Terakhir, dari video yang beredar viral, Sony juga menyoroti adanya truk yang gagal bermanuver hingga terguling saat menghindari tabrakan beruntun. Sony menekankan agar pengendara sebaiknya menghindari berkendara dekat dengan truk.

"Bahayanya berada di depan truk risiko gagal berhentinya mereka besar, hindari dekat-dekat dengan truk," pungkas Sony.



Simak Video "Chacha Eks Trio Macan Akan Dimakamkan di Sidoarjo"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)