Rabu, 10 Jun 2020 16:48 WIB

Sepeda Bergerombol Makan Badan Jalan, Pengendara Motor dan Mobil Harus Bagaimana?

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Pemprov DKI Jakarta utamakan transportasi sepeda terkait mobilitas penduduk saat PSBB transisi. Untuk itu, Pemprov DKI mengatur perihal fasilitas bagi pesepeda. Masyarakat berolahraga dengan sepeda. (Agung Pambudhy/detikOto)
Jakarta -

Akhir-akhir ini makin ramai masyarakat yang berolahraga menggunakan sepeda. Tak jarang pula ditemui pengguna sepeda yang berolahraga bersama grup komunitasnya di jalan raya, bahkan sampai memakan badan jalan.

Gerombolan pesepeda yang memakan badan jalan ini dikhawatirkan menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas. Karena, di jalan raya bukan cuma sepeda yang menjadi penggunanya, ada pengguna kendaraan bermotor yang bisa memacu kecepatan lebih tinggi di jalan raya.

Memang, menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 106 ayat 2, pengguna kendaraan bermotor wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda. Bagi pengemudi yang tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda, maka bisa terancam pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500.000.

Meski begitu, menurut instruktur keselamatan berkendara sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, pesepeda juga harus memahami potensi bahaya bergerombol sampai memakan badan jalan raya. Kata Jusri, perlu diingat bahwa tak semua pengguna kendaraan bermotor taat aturan. Karena ketidakdisiplinan pengendara itulah pesepeda semakin rentan di jalan raya, apalagi kalau sampai memakan badan jalan. Jusri menyarankan agar pesepeda tidak bergerombol di jalan raya hingga memakan badan jalan karena berpotensi bahaya.

Tapi, dari sisi pengendara, jika melihat ada rombongan pesepeda yang bergerombol, apa yang harus dilakukan? Menurut Jusri, pengguna jalan lain juga harus hati-hati.

"Dan mereka harus paham bahwa ketika terjadi kecelakaan, yang rugi bukan cuma pesepeda, tapi dua-duanya yang terlibat kecelakaan tadi. Minimal berurusan dengan hukum, minimal finansial keluar, minimal hilang waktu. Kalau pesepedanya meninggal, bisa masuk penjara, bukan soal salah tidak salah, tapi karena ini ada kasus kematian, karena Anda dianggap lalai untuk mengantisipasi kelalaian orang lain. Kita juga harus hati-hati, itu tuntutan mengantisipasi kelalaian. Karena kita dituntut dalam undang2 harus penuh konsentrasi," kata Jusri kepada detikcom, Rabu (10/6/2020).

Yang bisa dilakukan pengguna kendaraan bermotor ketika melihat ada pesepeda bergerombol, kata Jusri, adalah tetap tertib berlalu lintas dan berbagi jalan. Dalam kondisi pesepeda bergerombol, mungkin pengendara menganggap hal itu mengganggu.

"Tapi tertib aja, mengalah, bersabar, kalau kita punya kesempatan untuk menyalip dengan berhati-hati, segera lakukan. Tapi untuk saat pertama, mengalah, bersabar sampai kita punya kesempatan untuk menyalip rombongan pesepeda tersebut," saran Jusri.

Saat bertemu dengan pesepeda yang bergerombol, sebaiknya pengendara tidak melampiaskannya dengan emosi. Sebab, kalau sudah pakai emosi, akan timbul keputusan-keputusan yang salah.

"Bisa memicu konflik dan macam-macam. Jadi sabar, karena yang perlu kita sikapi adalah jangan sampai terjadi kecelakaan. Jangan kita push dia, karena kalau kita push, bisa aja terjadi konflik. Ketika konflik, masalah lain muncul," ucap Jusri.

"Jadi pesepeda harus paham (potensi bahayanya), dan pengguna jalan lain harus paham (menyikapinya), agar kecelakaan yang merugikan kedua belah pihak ini dapat terhindar," simpulnya.



Simak Video "Mau Gowes? Jangan Lupa Hormati Pengguna Jalan Lain!"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
d'Rooftalk
×
Penemuan Rp 500 Juta di KRL
Penemuan Rp 500 Juta di KRL Selengkapnya