Rabu, 29 Mei 2019 13:53 WIB

Siap Mudik Lewat Tol Trans Jawa, Sudah Tahu Batas Kecepatannya?

Ridwan Arifin - detikOto
Tol Trans Jawa Foto: Pradita Utama Tol Trans Jawa Foto: Pradita Utama
Jakarta - Tol Trans Jawa diprediksi bakal menjadi primadona sebagai jalur lintas bagi pemudik. Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbang) memprediksi pemudik yang berasal dari wilayah Jabodetabek mencapai 4 Juta orang.

Sebagai jalur yang padat dilintasi pemudik, Kementerian Perhubungan sudah mengeluarkan peraturan Menteri Nomor 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan, seperti yang dikutip oleh Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno.



"Batas kecepatan paling rendah 60 km/jam dan paling tinggi 100 km/jam untuk jalan bebas hambatan (termasuk di dalamnya jalan tol). Sedangkan di jalan antar kota, seperti jalan pantura maksimal 80 km/jam, untuk jalan kawasan perkotaan paling tinggi 50 km/jam dan maksimal 30 km/jam untuk jalan kawasan permukiman," urai Djoko.

Pun kedisiplinan menjadi salah satu hal yang harus dijaga bagi setiap pengendara yang melintas di jalan bebas hambatan. Terlebih mudik perjalanan yang jauh, kondisi fisik, kendaraan harus tetap dijaga prima.

"Pertama adalah tertib berlalu lintas, dengan tertib penggunaan lajur. Lajur tengah adalah lajur normal, lajur menyalip adalah yang paling kanan, lajur bahu jalan sebagai lajur emergency, komitmen ini yang harus dijaga," ungkap Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu.

"Sudah saatnya sekarang kita bergerak dengan disiplin dan tertib berlalu lalu lintas, karena tertib ini adalah kebutuhan," tegas Jusri.



Terakhir, Jusri berpesan bahwa paradigma kecelakaan bukanlah karena nasib yang kurang baik. Bila dipikir kembali, kematian akibat kecelakaan kebanyakan akibat kecerobohan dari pengguna jalan, pun demikian banyak faktor yang menyebabkan di belakangnya.

"Kecelakaan itu adalah gagalnya strategi, keselamatan itu bukan it's a matter of good luck. Keselamatan itu strategic semuanya terencana, jadi kecelakaan itu bukan apes, itu yang harus dirubah paradigma masyarakat," ungkap Jusri.

"Orang yang mengalami kecelakaan karena gagal mengantisipasi. Mungkin karena meremehkan bahaya, meremehkan aturan atau dia tidak fokus, melakukan pekerjaan lain ketika berkendara misalnya menggunakan hp. Jadi penyebab kecelakaan itu banyak sekali," pungkas Jusri. (riar/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed