Training Director di The Real Driving Center (RDC), Marcell Kurniawan menjelaskan, risiko berkendara di malam hari meningkat dua kali lipat. Sebab, visibilitas berkurang akibat pencahayaan yang masuk ke mata terbatas.
"Malem itu risikonya meningkat dua kalilipat. Saat malam hari itu visibilitas menurun, risiko naik 20 persen," kata Marcell di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengemudi malam itu banyak rintangan, karena mengemudi itu kan mengandalkan mata. Semakin kita berumur semakin banyak cahaya yang kita butuhakn untuk melihat. Kalau penerangan jalan kurang dan hanya mengandalkan lampu depan, berarti risiko akan lebih tinggi," jelas Marcell.
Untuk itu, Marcell menyarankan agar tetap perhatikan laju mobil Anda. Jangan sampai mengemudi dengan kecepatan terlalu tinggi di malam hari.
"Pokoknya malam hari kurangi kecepatan kalau mengandalkan lampu depan tanpa penerangan jalan. Usahakan kecepatan di bawah 70 km/jam," saran Marcell.
Selain mengandalkan kecepatan, pengemudi juga bisa memanfaatkan lampu jarak jauh (high beam). Tapi, disarankan agar jangan terlalu sering menggunakan lampu jauh.
"Kita bisa lakukan pakai lampu jauh, cuma jangan sering-sering, jangan keterusan. Karena kalau lampu dim kena mata pegemudi lain, itu ada yang namanya snowblindness, tiba-tiba mata nge-blank, itu bisa berlangsung 2-3 detik. Kalau dia nge-blank 2-3 detik, dia bisa nabrak kita," jelas Marcell.
Jika Anda bertemu dengan pengendara yang terus menyalakan lampu jarak jauh dari arah berlawanan, Anda bisa memicingkan mata agar terhindar dari tabrakan dan tetap fokus ke jalan.
"Kalau ada orang lain datang dari arah berlawanan pakai lampu jauh terus, yang kita perlu lakukan adalah melihat pakai sudut mata. Dengan memicingkan mata dan agak miring," ucap Marcell.
(rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Biaya Tes Psikologi SIM Online Naik, Sekarang Jadi Segini
Intip Garasi Kakanwil Pajak Jakarta Utara yang Dicopot Purbaya
Penyesalan Pemotor yang Lawan Arah-Ditegur Polisi Marah Bilang Nggak Takut