Bagi Silcia Brenda, 19 tahun, sepeda motor bukanlah sekadar sarana transportasi belaka, namun juga sebagai sarana untuk berekreasi melepas penat dan menyalurkan hobi.
Dan bicara soal jenis motor, mahasiswi semester empat sebuah perguruan tinggi negeri di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur itu, lebih sreg jika menunggangi motor sport alias motor laki.
βLebih sreg pakai motor sport, lebih macho, maskulin. Apalagi kalau pas turing jarak jauh,motor ini kerasa bener bedanya. Aku lebih sreg dengan yang macho,β ungkapnya kepada detikOto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hanya, perempuan bertinggi badan 168 centimeter itu, tak ingin mengendarai motor sport saban hari di jalan raya. Dia berdalih, lebih baik meredam keinginan untuk menyalurkan hasrat begaya di jalan taya ketimbang membahayakan orang lain.

βKita harus menyadari, di jalanan yang macet seperti di Jakarta ini, sudah seperti sudah tak hirau dengan tatakrama berkendara. Main serobot seenaknya saja. Kita tertib, orang lain belum tentu. Kita siap berhati-hati, orang lain enggak,β ucapnya.

Lantaran itulah, wanita yang akrab disapa Brenda itu, lebih suka memarkir motor sportnya di garasi ketimbang menungganginya saban hari. Dia akan memacunya tatkala jalanan terbilang sepi, pada hari Minggu atau pas lagi libur misalnya.
Slogan tertib berlalu-lintas, bagi Brenda bukanlah moto kosong belaka. Selain perlengkapan berkendara seperti helm, jaket, kaus tangan, dan decker, Surat Izin Mengemudi (SIM) menjadi modal wajib baginya. Satu hal lagi, dia senantiasa mematuhi rambu.

Baginya, sesuatu yang haram jika menerobos lampu merah. Dia juga mengaku paling sebal melihat pemotor yang menggunakan knalpot bersuara berdentum keras.
βKarena jalanan bukan hanya milik kita tapi semua orang. Mereka juga bayar pajak seperti itu, karena itulah tata krama di jalan harus diutamakan. Macho tak berarti harus seenaknya, sopan dengan tampilan keren juga macho kok,β imbuhnya mengakhiri perbincangan.
(arf/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Pick Up 4x4 India Jadi Kendaraan Operasional: Biaya Perawatan Mahal-Suku Cadang Terbatas