Selasa, 11 Nov 2014 16:07 WIB

Nanik Si Tukang Tambal Ban Cantik dari Malang

- detikOto
Aminudin
Malang, -

Nanik penambal rupawan asal Ampelgading, Kabupaten Malang ini membuat heboh media sosial. Siapa sangka, gadis muda ini punya kemampuan semestinya dimiliki kaum lelaki.

Sebuah bedeng berukuran 6 meter persegi menjadi tempat Nanik membuka lapak tambal ban. Lokasinya tepat di jalur Malang-Lumajang atau Jalan Raya Tlogosari, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Sebelumnya, Nanik disebut sebagai penambal ayu di Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Tempat itu juga menjadi hunian Nanik bersama Ricko Hari Wibowo (22), suaminya. Pasangan muda ini sudah dua tahun lamanya membuka usaha tambal ban untuk menyokong ekonomi keluarga kecilnya.

Kembali kepada Nanik, yang tidak terpikirkan menjalani hidup sebagai penambal ban. Diawali dari menikah di usia muda, dua tahun lalu bersama pujaan hati Ricko. Sang suaminya bekerja sebagai tukang servis di bengkel milik orang tuanya. Lokasinya di seberang jalan dari lapak tambal ban Nanik.

"Sudah dua tahun ini, nambal," ucap Nanik ditemui di tempat kerjanya, Selasa (11/11/2014).

Awalnya Nanik hanya melihat suami dikala melayani tambal ban. Suatu saat banyak permintaan untuk menambal yang memaksa Nanik terjun menangani.

Sebelumnya motor biasa digunakan Nanik bocor. Dirinya nekat membongkar dan menambalnya menganut ajaran suaminya. Wajah rupawan tidak membuatnya risih untuk bersentuhan dengan alat perbengkelan.

"Dulu yang nambal antre. Terus saya nekat bantu bongkar, suami yang menambal," tutur gadis protolan SMP ini.

Melalui ajaran sang suami, Nanik dengan cepat bisa merekam dan mempraktekkannya. Sejak saat itu tambal 'dikuasai' oleh Nanik dan suaminya fokus bekerja di bengkel mobil orang tuanya.

"Saya buka jam 6 pagi, kadang sampai malam buka," kata gadis asal Simojayan, Kecamatan Ampelgading.

Terlihat jelas Nanik tidak mengalami kesulitan membongkar ban dalam motor untuk ditambal. Jemari kecilnya lihai menggunakan alat cungkil. Kerja keras Nanik untuk meraih pendapatan besar hanya bergantung pada banyaknya menambal ban. Setiap harinya, sekitar Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu didapatkannya dari menambal ban.

"Kalau lebaran ramai. Sampai antre-antre dapatnya banyak sampai Rp 150 ribu," ujarnya bangga.

Nanik tidak pernah menyerah untuk menyelesaikan tugas menambal ban. Sudah ratusan motor berhasil diselesaikan dengan baik, selama dua tahun membuka lapak tambal ban.

Hanya satu yang membuat Nanik kerepotan, yakni saat menambal motor trail. Ban berukuran besar serta keras membuatnya harus banting tulang membongkarnya. "Motor trail yang susah, tapi saya terima saja. Untuk upahnya sama Rp 7.000," ungkap Nanik.

Ricko sang suami mengaku pernah mengajari istrinya, tujuannya agar dapat membantu. Selain itu sudah menjadi keinginan Nanik bisa mengabdikan diri kepada keluarga.

"Saya ajari sekali ternyata langsung bisa," ungkapnya terpisah.

(lth/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com