Jumat, 01 Jun 2018 18:04 WIB

Begini Perjuangan Seorang Pebalap yang Diakui Jerman

Khairul Imam Ghozali - detikOto
Gerry Nasution, pebalap dan instruktur mengemudi Indonesia yang sudah diakui Jerman. Foto: Khairul Imam Ghozali Gerry Nasution, pebalap dan instruktur mengemudi Indonesia yang sudah diakui Jerman. Foto: Khairul Imam Ghozali
Jakarta - Jadi seorang pebalap tentu ada enak dan tidaknya. Salah satu yang bikin jadi pebalap tidak enak adalah persiapan sebelum balapan dimulai.

"Persiapannya. Untuk kita bisa meraih suatu prestasi nggak bisa didapat hanya dengan satu malam. Itu semua harus kita rancang," ujar penggagas sekaligus pebalap BMW Team Astra (BTA), Gerry Nasution, saat ditemui detikOto, di Jakarta.

Belum tentu semua yang sudah diperhitungkan dengan matang sebelum balapan dimulai akan sesuai harapan saat waktunya tiba. Di situlah saat-saat di mana rasa tidak enak jadi pebalap muncul. Karena kalau persiapan tidak berjalan sesuai harapan maka risikonya kerja lebih keras.



"Yang sudah lancar kita rancang dari awal tahun itu belum tentu lancar 100 persen, tiba-tiba mobil terjadi sesuatu, balapan hari Minggu, Sabtu kualifikasi, Jumat latihan resmi, tapi saat latihan mobil jebol, apa yang kita lakukan? Begadang. Turunin mesin, ganti mesin, kadang-kadang mobil beres jam 6 pagi kirim ke Sentul balapan jam 8," tutur Gerry.

Kata Gerry, semua terlibat bukan cuma tim mekanik, pebalap seperti dirinya pun kalau sudah terjadi hal-hal buruk akan kewalahan, meskipun kadang pebalap tidak harus ikut mengerjakan kerusakan pada mobil balapnya.

"Saya biasanya ikut nungguin mereka, just in case ada setelan yang harus konfirmasi ke saya, ini begini, oke saya mau setelan kayak begini, engine-nya begini. Jadi kadang kita harus ikutin juga, minimal kalaupun saya pulang, pasti tim mekanik yang kerja selalu telepon kasih update ini begini, kondisinya begini, akhirnya kita nggak tidur juga nungguinnya," lanjut pria yang juga bekerja sebagai BMW Driver Trainer itu.



Meski kenyataannya tidak enak karena harus sampai begadang menguras tenaga, lanjut Gerry, itu semua sudah jadi risiko di dunia balap. Dan dalam risiko itu ada tanggung jawab yang harus dilaksanakan.

"Tapi ya karena kita juga punya komitmen sama partner-partner yang lain, di mana komitmen itu tidak bisa dibatalkan, jadi ya kita harus perform, jadi mau nggak mau, tidur nggak tidur, atau istirahat kurang, kita harus bisa tetap memberikan yang terbaik. Biasanya habis balap baru tepar," lanjutnya.

[Gambas:Video 20detik]

(khi/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com