Jumat, 11 Mei 2018 14:21 WIB

Kembalinya Si Penggagas Mobil Proton

Dina Rayanti - detikOto
Proton Perdana yang menjadi mobil dinas para pejabat Malaysia. Foto: Istimewa Proton Perdana yang menjadi mobil dinas para pejabat Malaysia. Foto: Istimewa
Kuala Lumpur - Merek mobil Proton kini tak lagi sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah Malaysia. Pada bulan Juni 2017, Proton telah dipinang oleh perusahaan otomotif China, Geely. Kala itu Geely mengakuisisi 49,9 persen saham Proton. Dengan begitu, Proton tak lagi bergantung pada subsidi pemerintah.

Banyak yang menyayangkan mengapa akhirnya Malaysia harus menyerahkan salah satu simbol kenegaraannya itu kepada China. Geely dengan bebas bisa mendapat akses untuk merakit mobil di pabrik proton Malaysia serta juga dapat mendapat keringanan berupa bebas pajak saat mengirim mobil-mobilnya ke kawasan Asia Tenggara.

Proyek mobil nasional milik Malaysia ini pertama kali di inisiasi tahun 1979 oleh Mahathir Mohamad yang kini kembali dilantik jadi Perdana Menteri setelah 15 tahun pensiun.

Kemudian, proyek itu disetujui oleh anggota kabinet setempat pada tahun 1982 dan lahirlah Proton (Perusahaan Otomobil Nasional Berhad) setahun setelahnya.

Mahathir selanjutnya dipilih menjadi bos Proton dan menjadikannya kepala negara pertama yang memimpin sebuah perusaaan mobil nasional. Dua tahun berlalu, tahun 1985 Mahathir membuka pabrik Proton di kawasan Shah Alam. Lahirlah Proton Saga yang menjadi model pertama dan menjadi simbol mobil masyarakat Malaysia.

Nama Saga diambil dari pohon asli Malaysia yang menunjukkan ketahanan dan identitas asli mirip dengan nama Volkswagen dari Jerman, Cinquecento Italia, dan Lada mencerminkan mobil rakyat.

Pabrik Proton di Shah Alam diinstal oleh perusahaan Jepang Mitsubishi. Mobil juga dirakit dari platform Mitsubishi Lancer Fiore.

Warga Malaysia cukup bangga dengan merek mobil nasionalnya sendiri itu. Terbukti tahun 1986 Proton mendominasi 64 persen pasar domestik untuk mobil berkapasitas di bawah 1.600cc. Bahkan permintaan akan Saga melebihi dari suplainya. Saat itu Mahathir mengumumkan mobil juga bakalan masuk ke Amerika Serikat lewat pengusaha Amerika Malcolm Bricklin.

Bricklin mulai mengimpor Proton dari Malaysia ke AS tanpa dokumen legal. Namun di tengah-tengah proses impor itu ia justru menjual perusahaannya dan membuat muka Mahathir sedikit tercoreng karena Proton mengalami defisit keuangan besar-besaran. Manajemen Proton pun diganti dengan orang Jepang.

Tahun 1993, Proton kembali dipegang orang Malaysia dan akhirnya bisa menjadi primadona lagi di pasar domestik terutama dengan model baru. Selain itu juga berencana untuk menembus pasar Eropa.

Paruh kedua tahun 1900an, persaingan semakin ketat. Performa Proto mulai menurun hingga pada tahun 1996 dibeli oleh Lotus. Namun kalau diperhatikan, beberapa model Proton masih menjadi salah satu pilihan warga Malaysia di tengah merek-merek lain yang muncul.

Sampai akhirnya pada tahun lalu Proton dipinang oleh Geely dengan maksud untuk mengembalikan citra Proton serta memperbaiki keadaan finansialnya. (dry/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com