Selasa, 20 Mar 2018 13:44 WIB

Mau Touring Naik Mobil Keliling Dunia? Ini Tips Murahnya

Ruly Kurniawan - detikOto
Land Cruiser Foto: Ruly Kurniawan Land Cruiser Foto: Ruly Kurniawan
Jakarta - Selain kesiapan kendaraan, fisik, dan dokumen, hal yang patut diperhatikan sebelum berpergian jauh dengan motor atau mobil adalah kocek. Semakin jauh jaraknya, biaya yang dikeluarkan juga bisa jadi lebih banyak. Lalu bagaimana kalau keluar negeri ya?

Hartawan Setjodiningrat, atau biasa dikenal dengan panggilan Hauwke dan Sunny Rusly sudah melakukan perjalanan ke-60 negara selama tiga tahun. Menunggangi Land Cruiser VX lansiran 1996, secara pribadi Hauwke mengeluarkan sekitar Rp 1,5 miliar. Hal tersebut sudah termasuk bensin, penginapan, makan, persiapan dokumen, hingga servis mobil bila diperlukan. Mereka kini tengah menjelajah lagi sampai total 200 negara.



"Awalnya, saya bawa banyak makanan, kompor, spring bed, dan lain sebagainya. Tapi tidak perlu tuh. Saya yang bawa dari rumah itu jaket, sepatu, pakaian hangat, onderdil mobil, sampai obat saja. Kemarin habis sekitar Rp 1,5 miliar. Tapi saya tidak bisa sebut secara pasti ya," kata Hauwke saat berbincang bersama beberapa wartawan di Jakarta sebelum kepergiannya.

"Pengeluarannya juga seperlunya saja. Kita harus mengubah pandangan dan pikiran kita yakni mengeluarkan uang untuk kebutuhan 'what we need', bukan 'what we want'. Bila tidak bisa seperti itu, wah repot untuk manage uangnya," tambahnya.

Lebih detail, pengeluaran terbesar saat menempuh perjalanan tersebut ialah bahan bakar mobil. "Paling utama itu adalah bahan bakar, tidak bisa ditawar itu. Nah satu liter solar, saya bisa pakai sampai 5 km. Saya sudah menempuh 60.000 km, berarti sekitar 10.000 liter. Jadi pengeluaran di bahan bakar itu sekitar Rp 170 juta (1 Euro/liter)," kata Hauwke.

"Tidur saya targetnya dalam satu hari tidak boleh lebih dari Rp 200 ribu. Maka, sebulan kurang lebih hanya keluarkan Rp 6 juta untuk merem," tambahnya.



Sedangkan untuk keperluan makan, Hauwke lebih sering pergi ke pasar atau berbaur dengan warga sekitar. Tidak jarang juga ia melakukan tukar-menukar makanan dengan rokok Indonesia.

"Di Eropa, kalau kita lihat setiap makanan itu mahal. Makanya, kita makan di penduduk (sembari menginap) atau makannya di pasar. Tapi harus tidak boleh rewel. Lagipula, sejorok-joroknya di sana, di Indonesia lebih jorok karena pasar mereka tidak ada lalat. Standar kebersihan mereka tinggi, jadi tidak khawatir sakit perut. Saat menginap di penduduk juga kita harus bantu-bantu seperti cabut rumput, cuci piring, dan lainnya. Membaur," kata Hauwke.

"Kalau kepepet, saat lewat pegunungan berhenti deh ambil apel. Di sana buah seperti apel atau strawberry murah banget. Bila pas ada petaninya, saya ambil saja. Kita tukeran sama rokok Indonesia, senang mereka," tambahnya.

Tapi bukan berarti perjalanannya baik-baik saja. Dirinya juga sempat pusing saat Land Cruiser-nya itu bermasalah yakni turun mesin. "Uang keluar mendadak itu yang sering kali sangat besar seperti saat mobil terkena masalah. Saya sudah dua kali turun mesin. Untuk meredam biayanya, memiliki network sangatlah penting," tutup Hauwke. (ruk/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed