Selasa, 13 Mar 2018 14:17 WIB

Naik Mobil ke China Harus Buat SIM dan STNK Lokal di Tempat

Ruly Kurniawan - detikOto
Hauwke dan Sunny Rusli sudah mengaspal ke 60-an negara. Foto: Ruly Kurniawan Hauwke dan Sunny Rusli sudah mengaspal ke 60-an negara. Foto: Ruly Kurniawan
Jakarta - Berbagai pengalaman dan hambatan pasti dialami oleh pengendara yang berpergian jauh. Tidak terkecuali untuk Hartawan Setjodiningrat atau biasa dipanggil Hauwke dan Sunny Rusli yang sudah mengaspal ke 60-an negara. Salah satu cerita yang menarik ialah saat mereka masuk ke China.

Rupaya, berkendara mobil dari Jakarta dan masuk ke negeri Tirai Bambu tersebut harus mengeluarkan biaya ekstra. Di antaranya ialah untuk tour guide, pembuatan SIM dan STNK lokal, serta perizinan masuk.



"Di China cukup mahal ya, karena kita harus sewa tour guide. Itu kebijakan dari sana, lagi pula tidak semua warga bisa bahasa Inggris juga," papar Sunny saat berbincang santai bersama wartawan di Jakarta.

"Nah biaya untuk guide-nya itu sehari mungkin bisa US$ 150. Tapi enak sih kalau ramai, bisa di-sharing. Di China asik tapi, infrastruktur bagus dan banyak hal yang bisa dilihat," tambahnya.



Hauwke juga mengungkapkan, bagi Otolovers yang ingin touring ke China harus membuat SIM dan STNK lokal. Hal itu bisa dilakukan di tempat.

"Di China juga kita harus buat SIM lagi, karena kan bahasanya beda. Kalau kita SIM Internasionalnya bahasa Inggris, tidak bisa baca tuh dia," paparnya.



"Lalu dibuatkan STNK lagi, nanti dapat pelat nomor lokal. Itu kegunaannya untuk masuk tol, dia nge-detect platnya untuk mirroring," lanjut Hauwke.

Selain itu, peraturan di sana pun cukup ketat. Tour guide-nya sangat tepat waktu. "Tiap hari, bangun itu jam 05.00, sarapan jam 6 pagi, saat pukul 07.00 waktu setempat sudah jalan lagi. Ketat banget," tutup Hauwke. (ruk/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed