Banyak ragam kendaraan roda dua di Indonesia. Ada yang berjenis skutik, bebek, naked bike, hingga sport fairing. Tidak hanya dari Jepang, motor asal Eropa seperti KTM pun mulai digemari.
Namun masih banyak pengendara motor yang enggan membeli kendaraan 'anti-mainstream' sejenis. Alasannya beragam, mulai dari layanan purnajual yang lebih sedikit, sparepart, konsumsi bahan bakar, sampai kenyamanan berkendara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengetesan dilakukan dengan jarak sekitar 800 kilometer dari Jakarta-Surabaya selama enam hari. Jalanan tidak rata, berliku, serta padat kerap ditemui karena jalur yang diambil adalah jalur Pantura. Berikut ulasannya.
Desain dan fitur
Foto: Pradita Utama
|
Suara motor asal Austria ini juga terbilang ramah lingkungan. Tidak terlalu menggelegar sebagaimana motor sejenisnya, tetapi aura sangar dan 'cowok' tetap kental adanya.
![]() |
Terkait fiturnya, suspensi Upside Down tebal merek WP, slipper clutch, serta kekuatan remnya menjadi hidangan standar. Anti lock braking system atau ABS hanya tersemat di New Duke 250 dan Duke 390.
![]() |
Panel speedometer dengan model LCD dapat dinikmati di Duke 390. Di sana, ada informasi lengkap seputar motor seperti odometer, speed, trip time, servis, dan sebagainya disertai mode berkendara (off, road, dan super moto). Dengan menghubungkan telepon melalui aplikasi khusus (bukan bluetooth), pengguna juga bisa menjawab telepon masuk secara langsung. Semua pengaturan bisa diakses melalui tombil yang berada di sebelah kiri stang.
![]() |
Oh ya, untuk KTM Duke 390 desainnya itu mengadopsi KTM Super Duke 1290 R. Sehingga secara tampilan motor lebih berbeda dan sangar.
Posisi Berkendara
Foto: Pradita Utama
|
![]() |
Sebab, selama perjalanan Jakarta-Surabaya detikOto yang tingginya 171 cm dan berat 56 kg tidak mengalami kesulitan menunggangi ketiga motor tersebut. Begitu pun Ladies Biker Chivay Sylvia Agustina. Motor terasa cukup ringan dan mudah dikendarai walaupun jalanan padat. Tapi memang perlu diakui, kaki masih rada jinjit.
Posisi berkendara pun tidak membuat pengendara cepat pegal karena stang condong ke dalam. Jok yang empuk juga menambah kenyamanan berkendara walaupun motor ditunggangi sampai 2 jam-an.
![]() |
Untuk detail bobot masing-masing motor sendiri, KTM Duke 200 memiliki berat 129,5 kg, New Duke 250 139 kg, dan Duke 390 149 kg. Cukup ringan dibanding naked bike sekelasnya.
Performa
Foto: Pradita Utama
|
Sedangkan KTM New Duke 250 memiliki mesin 248.8 cc berpendingin cariran, 4 tak, 1 silinder tunggal. Bertransmisi manual 6 percepatan, motor memiliki tenaga maksimum 29,58 Bhp di 9.000 rpm dan torsi maksimal 24 Nm.
![]() |
Dan, Duke 390 menggendong mesin 373,2 cc berpendingin cairan, 4 tak, 1 silinder. Juga didukung oleh transmisi manual 6 percepatan, motor dapat menghembuskan tenaga maksimum 32 kW (43 Hp) dan torsi 36 Nm.
Setelah dibuktikan selama perjalanan Jakarta-Surabaya yang mengambil jalur Pantura, performa ketiga motor KTM ini sangat terasa. Ketika melewati jalanan yang tidak rata (bumpy), motor terasa empuk mengakibatkan handlingnya sangat mudah. Hentakan masih bisa dikendalikan.
![]() |
Hal tersebut karena semua varian KTM Duke menggunakan Upside Down dari WP yang terkenal di motor-motor kejuaraan trail akan durabilitas dan kenyamanannya.
Untuk kecepatan maksimal, detikOto sangat takjub dengan KTM Duke 200. Karena walau kapasitas mesin lebih kecil dari saudaranya, si 'kecil-kecil cabe rawit' ini bisa mengimbangi. Menembus kecepatan 100 km/jam sangat mudah meskipun erangan mesinnya terasa menyakitkan (dengung saat kecepatan sudah mendekati 100 km/jam). Duke 200 sendiri memiliki kecepatan maksimal 145 km/jam.
![]() |
Perpindahan gigi juga sangat smooth sebab motor sudah dilengkapi slipper clutch. Fitur ini membuat kopling menjadi ringan dan mampu mencegah ban terkunci ketika melakukan downshift atau turun gigi yang salah. Jadi walaupun menurunkan dua gigi sekaligus, roda tidak selip atau ngepot.
Namun sayang, tuas kopling masih terasa sangat keras di Duke 200 sehingga tangan cepat lelah. Hal ini tidak berlaku untuk New Duke 250 maupun Duke 390.
![]() |
Semakin besar mesinnya, tenaga yang dihasilkan pun makin luar biasa. Itu juga berlaku untuk KTM Duke 390. Ketika throttle diputar habis, terasa ada tenaga tambahan seperti turbo yang menendang motor. Sehingga untuk mencapai kecepatan 120 km/jam sangatlah mudah di motor ini.
"Motor ini (Duke 390) sangat mengerti gue banget. Apa pun yang ingin gue pinta, dia langsung meresponnya. Kecepatannya luar biasa," kata Reza MS, salah satu biker di Road Warriors 2018.
Konsumsi Bahan Bakar
Foto: Pradita Utama
|
Pada metode full-to-full, konsumsi bahan bakar KTM Duke 200 menembus angka 38 km/liter. Sedangkan New Duke yang bermesin 248,8 cc konsumsi bahan bakarnya adalah 35 km/liter. Duke 390 berada di angka sekitar 28 km/liter.
![]() |
Angka tersebut tentu bisa berbeda tergantung pada medan yang ditempuh. Untuk jalur dari Jakarta ke Surabaya yang detikOto ambil sendiri adalah jalur utara (Pantura) di mana jalanan cukup padat kendaraan, banyak lubang dan tidak rata, tak banyak naik-turun, serta cuaca yang cerah (sempat gerimis sebentar).
![]() |
Bila dirupiahkan dengan harga BBM yang berlaku saat ini, masing-masing motor memakan biaya sekitar Rp 300 ribu. Kocek lebih tentu harus dikeluarkan bila Otolovers menggunakan Duke 390 karena mesinnya lebih besar.
Kesimpulan dan Poin Plus-Minus
Foto: Pradita Utama
|
Tetapi masih banyak pengguna motor di Indonesia yang ragu untuk menggunakannya. Terlebih motor besutan Austria ini bukanlah matik melainkan naked bike yang terkesan sporty dan gagah.
![]() |
Untuk itu detikOto melakukan perjalanan Jakarta-Surabaya (sekiar 800 km) yang bertajuk Road Warriors 2018 menggunakan KTM Duke 200, New Duke 250, dan Duke 390.
Melewati padatnya jalur Pantura, motor ternyata cukup mudah dikendalikan dan tidak begitu berat sebagaimana kelihatannya. Pun ketika motor harus melewati jalanan berlubang dan tidak rata. Terima kasih kepada suspensi WP yang disematkan.
Performa motor juga tidak mengecewakan. Terlebih bila Otolovers menggunakan Duke 390. Kecepatan 120 km/jam tidak perlu memerlukan usaha yang berat.
![]() |
Dengan adanya slipper clutch di setiap motor, pergantian gigi sangatlah mudah dan halus. Ketika detikOto mencoba menurunkan dua gigi sekaligus pun tidak ditemukan adanya selip ban atau ngepot. Sebab, fitur ini membuat kopling menjadi ringan dan mampu mencegah ban terkunci ketika melakukan downshift atau turun gigi yang salah
Tetapi tetap saja masih ada beberapa kekurangan di Duke 200, New Duke 250, dan Duke 390. Berikut ringkasan plus-minusnya:
Poin Plus :
Motor tidak berat dan handling sangat mudah. Cocok untuk digunakan harian khususnya di jalanan yang padat kendaraan.
Suspensinya empuk dan kokoh, menggunakan merek WP. Suspensi tersebut terkenal di motor balap dan trail.
Ada slipper clutch sehingga motor tidak selip atau ngepot ketika pengendara melakukan downshift atau salah turun gigi (menurunkan dua gigi sekaligus di satu momentum).
Performa sangat maksimal dan responsif. Akselerasinya jangan diragukan lagi.
Terbilang cukup hemat bahan bakar.
Fitur cukup lengkap, sudah ABS kecuali untuk Duke 200.
![]() |
Poin Minus :
Untuk kecepatan maksimal cukup sulit diraih.
Ciri khas motor Eropa masih sangat terasa yakni panas di bagian paha kiri.
Pada Duke 200, tuas kopling masih sangat keras.
Duke 390 belum terintegrasi lewat bluetooth. Pengguna harus mengunduh aplikasi khusus dari KTM tersendiri untuk terhubung ke layar menu di motor.
KTM Duke 200 belum dilengkapi dengan ABS, padahal harga motor sudah masuk Rp 30 jutaan.
Diler yang masih terbatas.
Komentar Terbanyak
Begini Pengakuan Polisi Sopir Rantis yang Lindas Affan Kurniawan
Pajak Mobil Indonesia Dicap Paling Tinggi Sedunia
Bayangin Aja! Pajak Toyota Avanza Rp 150 Ribu, Nggak Ada Gesek 5 Tahun Sekali