Laporan dari London

Menjajal Motor Triumph, Menantang Udara Dingin Inggris

Aryo Bhawono - detikOto
Senin, 09 Nov 2015 13:28 WIB
Parkir di salah satu sudut Westminster Abbey, London
London - Angin dari Samudera Atlantik terasa membekukan punggung telapak tangan. Tuas gas di sepeda motor terasa berat untuk diputar. Namun kecepatan harus tetap dipacu melebihi kecepatan 80 mil/ jam, mengimbangi laju kendaraan lain di jalur highway M4.

Ramalan cuaca menunjukkan suhu udara bakal berkisar 10 derajat celcius. Namun dengan kecepatan tinggi, suhu menurun menjadi 5 derajat Celsius.

Udara beku menjadi tantangan besar berkendara di Inggris. Udara dingin menjalar dari tangan menuju badan. Namun sepeda motor harus tetap melaju.

Jalan utama lintas kota di pinggir kota Swansea, Inggris, basah. Hujan musim gugur tak hanya menyisakan dingin tetapi juga jalanan licin. Matahari-pun sudah tak kelihatan di ufuk barat, malam datang lebih cepat di akhir Oktober 2015.

Dingin, gelap, basah, dan licin di highway M4 itu merupakan sekelumit kisah perjalanan detikOto dalam touring di Britania bersama Triumph Motorcycle. Sebanyak 5 pemotor Indonesia melakukan touring ini pada 22-26 Oktober 2015 lalu.

Mereka adalah Managing Director PT Triumph Motorcycles Indonesia Paulus Bambang Suranto mengendarai Triumph Tiger 800XC, yang didampingi wartawan Munawar Chalil mengendarai Triumph Tiger Explorer, Wisnu Guntoro Adi, Triumph Tiger 800XRX, Ryan Windatama Triumph Street Triple 1.200, dan saya sendiri mengendarai Triumph Speed 675.

Menjajal jalanan di negeri itu bukan tantangan sepele.

Awal petualangan ini berjalan dengan mulus. Kehadiran truk pengantar sepeda motor disambut cuaca cerah pada Senin Sore 21 Oktober 2015 di pintu belakang Hotel Hoxton, Shoreditch, Old Street, London.

Pengalaman pertama berkendara motor di Inggris baru dilakukan keesokan harinya pada Selasa 22 Oktober 2015. Kelima pemotor menikmati lalu lintas kota London yang padat. Maklum, musim gugur membuat London semakin dipadati wisatawan.

Daun maple yang menguning di jalanan menjadi daya tarik wisatawan. Mereka berjejal memenuhi kawasan Westminister Abbey di pusat kota London. Kawasan ini merupakan komplek wisata utama di Inggris. West Minister Abbey berdekatan dengan London Bridge, Istana Buckingham, lapangan Travalgar, London National Gallery lainnya.

Padatnya lalu lintas menjadi tantangan di hari pertama riding di Inggris. Sepeda motor ber mesin besar harus dipacu diantara kendaraan lain dan menghadapi banyak persimpangan. Perjalanan dalam kota tetap saja melelahkan karena kendaraan harus dipacu dengan pelan.

Kesempatan membetot gas justru muncul ketika mengunjungi Ace Café yang terletak di Jalan lingkar Utara London, sekitar 15 km. Perjalanan menuju kafe legendaris pemotor di Inggris ini menjadi pengalaman pertama bagi pemotor Indonesi untuk menjajal nyamannya melintas highway.

Melintasi jalur ini harus melupakan kebiasaan berkendara di Jakarta. Perilaku lalu lintas di Inggris sangat tertib. Setiap kendaraan memiliki hak sama, satu lajur untuk tiap kendaraan. Jika ingin menyalip pengendara harus berpindah ke lajur kanan.

Perjalanan di hari kedua pada 23 Spetember 2015 menjadi pengalaman mendebarkan. Sinyal GPS yang dipakai selalu terlambat menunjukkan arah jalan. Alhasil ketika melintas Highway M4 keluar dari London menuju Sussex selalu nyasar.

Risikonya, butuh waktu lebih banyak untuk menempuh perjalanan ke ujung selatan Inggris itu. Setiap pintu keluar di M4 memiliki jarak jalur putar, namun jarak antar jalur putar amat jauh, hingga 10 km. Sehingga untuk menemukan jalur baru maka kami harus menempuh dua kali lipat dari jalur yang direncanakan.

Makanya, kota tujuan pada hari kedua, Winchester, tak dapat dicapai. Apalagi lalu lintas dari Sussex ke Chichester (jalur menuju Winchester) cukup padat.

Insiden di Roundabout Chicester

Kepadatan lalu lintas ini cukup merepotkan. Salah satu biker mengalami kecelakaan ketika menunggu giliran berjalan di sebuah bundaran (roundabout).

Sebuah mobil menyerempet Paulus Suranto sehingga mengalami cedera pada kaki. Ia harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Kecelakaan ini menjadi pengalaman berharga. Para bikers mendapat kesempatan untuk melihat sigapnya pelayanan kecelakaan yang sigap dan penanganan polisi yang ramah.

Ambulans yang membawa Paulus datang ke lokasi kejadian tak lebih dari lima menit setelah ditelepon. Ketika di ruang gawat darurat-pun, tim medis memprioritaskan penanganan tanpa bertanya macam-macam mengenai identitas korban. Namun Paulus harus mendapat tujuh jahitan di kaki karena kecelakaan ini.

Polisi yang menjaga motor di pinggir jalan-pun melayani dengan baik. Mereka mempersilakan pengendara untuk menitipkan motor di kantornya selama Paulus mendapat perawatan.

Insiden ini-pun menutup perjalanan hari kedua berkendara. Kelima pengendara harus bermalam di Chichester karena malam sudah terlalu gelap dan cuaca yang makin membuat menggigil.

Sergapan Cuaca Dingin

Kecelakaan ini tak membuat perjalanan terhenti. Paulus memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Tongkat bantu jalannya diikat di bagian belakang motor. Celananya yang robek karena penanganan medis sementara diberi perekat.

Perjalanan hari ketiga dimulai pada 24 Oktober 2015 pagi. Target perjalanan adalah kawasan pinggiran Wales. Perjalanan ini justru menjadi catatan terberat karena sejak pagi mendung sudah mengancam.

Air hujan-pun sudah mulai menetes dari langit ketika kelima pengendara menuju Castle Combe di Wltshire. Desa indah ini menjadi tempat persinggahan kelima biker Indonesia. Mereka menargetkan istirahat siang di desa dengan nuansa klasik.



Namun sesampai di desa yang sering menjadi tempat shooting film klasik itu kelimanya sudah basah kuyup. Jalur yang mereka lalui (jalur M4, kode jalan raya terbesar dengan empat lajur) didera hujan sepanjang siang.

Kondisi basah kuyup ini tak membuat laju kelima biker terhenti. Perjalanan menuju pinggiran Wales terus berlanjut. Arah jalan cukup jelas, tinggal terus melintas di jalur M4.

Untungnya ketika melintas di pinggiran Swansea cahaya matahari bersinar dengan terang. Perjalanan harus diperlambat karena silau. Cuaca ini setidaknya membuat tubuh sedikit hangat.

Kondisi ini tak bertahan lama, malam lebih cepat tiba di akhir musim gugur. Suhu udara-pun menurun drastis hingga mencapai Hotel Bagger Reach di pinggiran Wales.

Menjajal Jalur Favorit Biker Inggris

Hari Ketiga pada 25 Desember 2015 merupakan perjalanan paling indah. Cuaca cerah dan suasana pinggiran laut atlantik menjadi pemandangan selama perjalanan ketika meninggalkan Wales. Pejalanan ini akan diteruskan menuju London melalui Taman Nasional Bracon Beacon.

Jalanan di taman nasional ini cukup menyenangkan. Pasalnya jalur berliku melintasi hutan dan padang sangat memanjakan pengendara motor. Kondisi berbukit membuat jalanan terlindung dari angin kencang.

Beberapa biker dari Inggris lalu lalang di jalan dengan kecepatan tinggi. Mereka bisa bermanuver dengan kecepatan tinggi.

Perjalanan ketiga berakhir di Oxford. Jalanan kelas A (dua lajur) terasa sangat ramah karena lancar. Kota di pinggiran London ini menjadi persinggahan terakhir sebelum kelima biker asal Indonesia kembali dengan selamat di London. Tak terasa rekaman jarak touring di speedometer sudah menunjukkan angka 1.300-an km.
 

(ddn/ddn)