Jumat, 11 Mei 2018 15:32 WIB

Ini Rasanya Menjajal Toyota C-HR, Camry Versi Bongsor

Ruly Kurniawan - detikOto
Toyota C-HR. Foto: Ruly Kurniawan Toyota C-HR. Foto: Ruly Kurniawan
Jakarta - Sejak awal kemunculannya pada April 2018 lalu, crossover terbaru yang dibawa oleh PT Toyota-Astra Motor (TAM), C-HR menuai sensasi tersendiri. Soalnya, banderolan yang dikenakan oleh pihak TAM sangat tinggi yakni Rp 490 juta, menjadikan SUV ini kendaraan termahal di kelasnya.

Namun pihak TAM mengungkapkan, dengan segala keindahan dan kecanggihan di dalam mobil C-HR, roda empat yang dibawa langsung dari Thailand tersebut masih terbilang 'value for money'.



Untuk membuktikan hal tersebut, detikOto mendapat kesempatan mencicipi Toyota C-HR di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Melalui undangan resmi dari TAM, waktu yang diberikan untuk merasakan impresi performa mobil pesaing Honda HR-V sampai Mazda CX-3 ini cukup terbatas. Namun masih terbilang cukup untuk menjajal untuk memberi impresi pertama C-HR.

Salah satu yang membuat C-HR mahal karena platform yang digunakan tidak sembarangan. Ia menggunakan TNGA atau kepanjangan dari Toyota New Global Architecture seperti pada mobil Camry, Prius, sampai Avalon. Sehingga mobil mendapat sentuhan berbeda untuk memberikan kesenangan dan ikatan emosional terhadap pemiliknya. Beberapa hal yang terlihat berubah daripada platform mobil Toyota lainnya seperti low center of gravity yang baik, tingkat NVH (Noise, Vibration, Harshness) yang baik, body jadi lebih kuat, handling tidak lemot atau slow respond, sampai bagian under cover yang dijadikan flat menggunakan plastik, seperti mobil balap.

Toyota C-HR. Toyota C-HR. Foto: Ruly Kurniawan


Kesan pertama yang detikOto dapatkan saat melihat Toyota C-HR adalah tampangnya yang kental akan kata sporty meski sepintas mirip Toyota Camry bertubuh bongsor. Headlamp yang futuristik dipadukan dengan grille yang tegas membuat tampang depannya terasa maskulin dan gagah sekaligus.

Begitu masuk ke kabinnya, kesan mewah dan futuristik seketika hinggap. Karena, selain ada beberapa tombol pengaturan di kontrol panelnya, posisi duduk di kursi kemudi terbilang cukup rendah. Memang, hal itu untuk menekan berat mobil agar tidak limbung walau melaju di kecepatan tinggi namun hal yang dikorbankan adalah ketidakbiasaan mengemudi dengan posisi SUV yang agak rendah.



Untuk fitur yang disediakan, detikOto merasa sudah cukup dengan tombol pengaturan AC di tengah yang semuanya belum digital, head unit 10 inci yang responsif, hingga tombol bantuan di setir. Di tombol kemudi itu pengemudi bisa melihat berbagai informasi mobil lewat odometer, termasuk mengganti mode berkendaranya.

Saat mesin 1.800 cc ini dinyalakan dengan menekan Start Stop Button, getaran mesin nyaris tidak terasa dari dalam kabin. Terlebih ketika semua pintu ditutup menandakan kekedapan C-HR tergolong cukup baik. Ketika mobil ingin melaju, Otolovers tidak usah khawatir kalau logo rem tangan masih menyala. Karena, ketika gas dipijak, secara otomatis fitur tersebut dinon-aktifkan.

Toyota C-HR. Toyota C-HR. Foto: Ruly Kurniawan


Untuk respons awal, C-HR terbilang sangat halus. Terima kasih kepada transmisi Continous Variable Transmission atau CVT tujuh percepatan di mobil ini. Jadi, putaran bawah sangat nyaman terlebih kalau diajak stop-and-go.

Tak sampai di sana saja, saat mobil diajak berakselerasi dengan cepat, tidak ada kesan lemot. Tapi memang, ada raungan yang cukup terdengar meskipun tidak lama juga. Secara keseluruhan, untuk akselerasi C-HR sangat baik.

Namun ketika mobil melaju di kecepatan sekitar 100 km/jam di kawasan Ancol, setir kemudi menjadi cukup kaku. Berbeda bila mobil melaju di kecepatan 80 km/jam ke bawah.

Untuk peredaman suspensinya, detikOto merasa sangat pas. Tidak begitu keras, namun juga tidak terlalu empuk sehingga mobil tidak mantul ke mana-mana. Itu berkat kinerja suspensi depan MacPherson yang dipadukan dengan Double Whishbone di belakang. Tapi suspensi masih kurang optimal dalam meredam guncangan ketika mobil di kecepatan sekitar 50 km/jam.



Terdapat tiga pilihan mode berkendara di C-HR, yakni Eco, Normal dan Sport. Ketika mode Sport aktif melalui tombol di setir, akselerasi langsung optimal sehingga untuk injak gasnya sangat efortless. Tapi tidak ada ubahan pada pengaturan suspensi, dan layar MID.

Fitur keamanan pun juga dicoba saat mengendarai Toyota C-HR. Fitur blind-spot monitor langsung aktif begitu kendaraan lain mendekati mobil ini di jalanan.

Tidak banyak yang bisa detikOto lakukan di arena test drive yang disediakan di dalam Taman Impian Jaya Ancol ini. Tapi, akselerasi C-HR patut diberi pujian sehingga cocok untuk digunakan sehari-hari.

Ini Rasanya Menjajal Toyota C-HR, Camry Versi BongsorFoto: Ruly Kurniawan


detikOto sangat menyayangkan juga bahwa mode berkendara di C-HR tidak begitu berpengaruh. Ia hanya merubah karakter mesin dan transmisi saja. Layar MID, suspensi, sampai kekakuan setir kemudi tidak ada perubahan.

Kelebihan

Putaran mesin sangat responsif, sehingga cocok untuk dikondisi stop-and-go
Kekedapan suara sangat baik untuk pengemudi dan penumpang di kursi pertama
Fitur keamanan berkerja optimal mulai dari sensor kendaraan yang berada di sekitar, sampai untuk parkir.
Tidak begitu banyak tombol sehingga bagi pemula sangat mudah mengerti cara kerja seluruh fitur di C-HR.

Kekurangan

Pengaturan kursi kemudi masih manual.
Mode berkendara kurang optimal perubahannya karena hanya mengubah karakter mesin dan transmisi saja. Untuk suspensi dan kemudi tidak berubah (untuk mode Sport).
Suspensi kurang optimal dalam meredam guncangan ketika mobil di kecepatan menengah. (ruk/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed