Hal yang menjadi fokus utama PT PGN dalam memasyarakatkan penggunaan CNG ini adalah keamanan pada kendaraan berbahan bakar gas. Kini, banyak pandangan miring terkait ketidakamanan BBG untuk kendaraan bermotor. Sebab, masyarakat masih menganggap bahwa gas rentan meledak.
Namun, untuk PNG menjamin BBG jenis CNG ini dijamin aman. CNG diklaim lebih aman dan tidak mudah terbakar ketimbang BBG jenis lainnya. Soalnya, CNG lebih ringan dari udara dan akan langsung terlepas ke atmosfer atau menguap bila terjadi kebocoran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang, jika dilihat dari luar kedua mobil ini tidak tampak menggunakan BBG. Namun, ketika kap mesinnya dibuka terdapat perbedaan yang mencolok, konverter kit BBG jelas terlihat.
Selain penambahan konverter kit, tidak ada perubahan lain untuk kedua mobi ini. Dari segi eksterior, interior dan spesifikasi mesin masih menerapkan pengaturan pabrikan.
Penasaran dengan keunggulan mobil BBG yang sempat dirasakan detikOto? Yuk, simak ulasannya berikut.
1. Keamanan BBG Jenis CNG
|
|
Jenis gas LGV mungkin lebih dikenal dengan Vi-Gas atau bentuk turunan dari LPG. Gas ini biasa digunakan rumah tangga untuk memasak (elpiji).
Namun, jenis gas yang dikampanyekan PT PGN adalah jenis CNG, yaitu gas bumi yang dikompres. CNG ini dikatakan lebih aman daripada LGV. Sebab, CNG lebih ringan dari udara dan bakal menguap bila terjadi kebocoran..
Hal ini berbeda dengan LGV yang beratnya dua kali lebih besar dari udara. Dengan berat itu, LGV akan mengendap terlebih dahulu ke bawah dan membahayakan penggunanya.
Jadi, tidak perlu khawatir lagi dengan keamanan CNG ini. Sebab, kasus meledaknya Bajaj dan bus TransJakarta yang telah menggunakan CNG pun belum pernah terjadi hingga sekarang. Hanya saja, terdapat insiden terbakarnya bus TransJakarta tapi kejadian itu diyakini akibat perawatan yang kurang baik.
2. Keunggulan BBG Jenis CNG daripada BBM
|
|
Sementara BBG jenis CNG diolah langsung di dalam negeri. Jika masyarakat Indonesia beralih ke BBG, nantinya Indonesia akan semakin mandiri dan tidak ketergantungan dengan harga minyak dunia. Hal itu menjadi keunggulan tersendiri dalam menggunakan BBG untuk kendaraan bermotor.
Tidak hanya itu, BBG jenis CNG juga menawarkan harga yang murah ketimbang BBM termurah jenis Premium. Di SPBG PT PGN, Gas CNG dibanderol Rp 3.100 per liter setara premium (LSP). Sementara BBM jenis Premium memiliki harga Rp 7.600 per liter saat ini.
3. Penilaian dari Segi Performa
|
|
Sebab, BBG dengan BBM tentu berbeda. Memang, jika dibandingkan penggunaan BBM kedua mobil yang sempat dirasakan detikOto terbilang sedikit kurang responsif.
Bahkan, Staf Ahli Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Budi Prasetyo Susilo pun merasakan hal yang sama ketika ia menggunakan mobil BBG beberapa waktu lalu. Hal yang utama untuk mengatasi hal itu adalah penyesuaian setelan mobil berbahan bakar gas.
Ketika detikOto duduk di balik setir Toyota Kijang Innova, hal yang dirasakan pertama kali adalah kesamaan mobil itu dengan Innova biasa. Dari segi perpindahan transmisi otomatisnya, Innova ini menawarkan perpindahan tingkat percepatan yang halus.
Untuk Innova yang dirasakan detikOto, konverter kit yang disematkan berkapasitas 15 liter. Terdapat lampu indikator kondisi gas di samping pengaturan kaca spion otomatis mobil ini. Jika gas akan habis, akan ada peringatan dari indikator itu. Jika gas habis dan SPBG sulit dijangkau, pemilik mobil bisa langsung berpindah ke mode penggunaan BBM dengan menekan tombol di indikator kondisi gas itu.
Sementara itu, ketika detikOto menjajal sedan Toyota Camry juga tidak ada perbedaan yang signifikan. Namun, jika dibandingkan Innova, Camry ini lebih responsif. Sedikit saja menginjak pedal gas, sedan ini langsung melesat. Hal itu mungkin menggambarkan kapasitas mesin yang lebih besar daripada Innova.
Perpindahan transmisi otomatisnya juga terbilang sangat halus. Selain itu, kenyamanan yang diberikan sedan Camry masih hadir dalam Camry BBG ini. Suspensinya pun tidak memberikan goncangan yang keras ketika detikOto sempat menghantam lubang.
4. Kesimpulan
|
|
Selain itu, penggunaan BBG jenis CNG pun menjamin keamanan pengendaranya. Sebab, CNG yang berbentuk gas ini tidak akan meledak dan akan menguap jika terjadi kebocoran.
Dari segi performa mesin mobil BBG tidak memberikan perbedaan yang siginifikan. Hanya saja, mobil BBG ini masih membutuhkan setelan untuk menyesuaikan penggunaan BBG.
Meski begitu, mobil BBG ini masih memiliki nilai minus. Harga konverter kit yang masih tergolong mahal menjadi kendala utama bagi pemilik mobil saat ini. Menurut Vice President Corporate Communication PGN Ridha Ababil, harga konverter kit standar dibanderol sekitar Rp 15 jutaan termasuk ongkos pemasangannya.
Tidak hanya itu, pihak produsen mobil di Indonesia pun masih belum menyediakan konverter kit di bengkel resminya.
Jika saja pihak Agen Pemegang Merek (APM) sudah menyediakan alat itu di bengkel resminya, konsumennya tentu akan semakin berani beralih ke BBG. Pihak penyedia asuransi pun bakal percaya diri untuk menjamin mobil konsumennya yang menggunakan BBG.
Halaman 2 dari 5












































Komentar Terbanyak
Agrinas Juga Impor Motor Roda Tiga untuk Kopdes Merah Putih
Muncul Dugaan Indonesia Dijadikan 'Tong Sampah' Pickup India
Pabrik di RI Bisa Produksi 400 Ribu Pick Up, Nggak Perlu Impor untuk Kopdes