Miris! Pebalap Indonesia Cuma Bisa Beli Mobil Bekas buat Balapan

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Kamis, 02 Des 2021 20:26 WIB
Rifat Sungkar dalam wawancara dengan detikcom
Menurut Rifat Sungkar, banyak pebalap Indonesia yang cuma mampu beli mobil bekas buat balapan. Foto: 20detik
Jakarta -

Di Indonesia banyak pebalap berbakat. Sayangnya, pebalap Indonesia tidak mendapat dukungan, terutama dalam mendapatkan kendaraan yang tepat untuk balapan.

Sejak Indonesia menggelar balapan kelas internasional seperti World Superbike (SBK) di Mandalika, nama Indonesia dikenal seantero dunia. Sirkuit bertaraf internasional yang ada di Lombok itu dipuji oleh berbagai tokoh balap dunia.

Selain menjadi tuan rumah balapan kelas dunia, dengan hadirnya sirkuit internasional sekelas Mandalika tentunya harapan lain agar pebalap Indonesia bisa berprestasi di ajang balap internasional. Namun, untuk mencetak pebalap kelas dunia, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Salah satunya dukungan berbagai pihak terkait.

Sebagai cabang olahraga yang sangat tergantung kepada peralatan dan perlengkapan, atlet motorsport setidaknya membutuhkan 2 hal utama. Yang pertama adalah kendaraan balap beserta teknologinya, dan kedua adalah perangkat keselamatan yang melindungi pembalap dari risiko fatal saat menekuni motorsport.

Sayangnya dua hal mendasar itu tidak dapat dengan mudah diperoleh insan motorsport Indonesia dari dalam negeri. Meski Indonesia menjadi pasar utama beberapa pabrikan mobil maupun motor, sedikit sekali yang menyediakan kendaraan dengan spesifikasi balap. Jika ada, kendaraan spesifikasi balap itu hanya tersedia di luar Indonesia.

Namun, bukan berarti pencinta motorsport berpangku tangan. Dengan usaha sendiri, insan motorsport Indonesia mencoba membangun dan mengembangkan kendaraan balap dari mobil-mobil atau motor-motor yang ada di tanah air.

Pereli nasional Rifat Sungkar yang juga Wakil Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) mengatakan, mendatangkan peralatan untuk balapan dari luar negeri tidak mudah dan jauh dari murah. Banyak pembalap Indonesia yang kemudian hanya mampu membeli kendaraan balap bekas dengan teknologi yang sudah ketinggalan.

Karena bekas, spare partnya pun tidak selalu tersedia. Akibatnya terjadilah kanibal dari mobil sejenis.

"Untuk membangun satu mobil balap, pembalap sampai harus membeli tiga mobil bekas. Yang satu dipakai untuk balapan, sementara yang dua dipreteli spare partnya untuk dijadikan cadangan jika ada yang rusak," kata Rifat dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom.

Agar pebalap Indonesia bisa mendunia, Rifat mengatakan perlu dukungan dari pemerintah. Salah satu caranya, kata dia, adalah dengan mengubah beberapa aturan yang terkait dengan impor kendaraan dan spare-partnya. Aturan yang mengganjal bagi atlet balap Indonesia adalah larangan jual beli blok mesin baru, berbelitnya aturan impor mobil untuk balapan, juga pengenaan pajak yang tinggi untuk spare part peralatan keselamatan balap.

"Sebagai insan motorsport, saya pribadi memohon pemerintah untuk dapat memperhatikan kebutuhan olahraga balap ini. Mungkin lewat pelonggaran aturan yang memudahkan insan motorsport mendapatkan kendaraan dan peralatan balap. Apa yang saya minta ini semata untuk meningkatkan prestasi balap tanah air sekaligus dapat melindungi dari risiko fatal yang kami hadapi," papar Rifat.



Simak Video "Mencoba Rute Baru Kereta Commuter Solo-Palur"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)